SketsaNusantara.id - Ramai tagar 'Kabur Aja Dulu' di media sosial kini dianggap dipelopori oleh generasi Z yang dipandang sebagai generasi yang lebih berani dan vokal.
Munculnya tagar ini oleh Gen Z ditengarai psikolog karena didorong oleh anggapan bahwa kemampuan mereka tak dihargai di negeri sendiri.
Lalu bagaimana psikolog memandang trend yang kini menjadi trending di platform media sosial dan menimbulkan kegelisahan kalangan tertentu ini?
Baca Juga: Mahfud MD Tanggapi Tagar Kabur Aja Dulu, Singgung Soal Lunturnya Rasa Cinta Tanah Air
Menurut Imam Prasodjo, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa kondisi hingga timbulkan tagar 'Kabur Aja Dulu' disebabkan oleh luasnya informasi terhadap kondisi-kondisi negara lain dibandingkan negara sendiri.
Sebab itulah anak muda yang cenderung pengguna aktif media sosial menjadi lebih tahu dan kemudian membandingkan antara kondisi negaranya sendiri dengan negara lain.
"Yang saya khawatirkan adalah reaksi anak muda ini cerminan dari social distrust, ketidakpercayaan anak-anak muda terhadap pengelolaan negara pada saat sekarang," ujar Imam Prasodjo dilansir SketsaNusantara.id dari SketsaNusantara.id dikutip dari kanal YouTube Kompas TV.
Menurutnya, dari ketidakpercayaan itulah kemudian akan menimbulkan ketidakpercayaan akan masa depan mereka di negaranya sendiri.
Ia mencontohkan pada sistem penggajian serta sistem kehidupan yang lebih luas terkait kebutuhan sandang, pangan, dan papan yang banyak terjadi ketimpangan luar biasa di negeri ini.
Untuk hal itu kita bisa menengok pada daftar kekayaan pejabat baru di LKHPN yang jumlahnya hingga mencapai triliunan, maka disanalah Gen Z melihat ketimpangan luar biasa di masyarakat kita.
Disamping itu menurutnya ada sistem penggajian yang sangat minim, meski berasal dari kalangan terdidik merupakan bentuk sistem yang amburadul hingga menimbulkan kefrustasian anak muda yang bisa jadi dikemudian hari akan menjadi public distrust.
Untuk itu menurut psikolog ada dua hal utama yang menjadi penyebab adanya tagar 'Kabur Aja Dulu' ini yakni adanya public distrust serta tata kelola negara yang tidak hadir di tengahnya.***