SketsaNusantara.id - Polemik Pilkada kembali memanas, salah satunya pernyataan Calon Bupati Jember Muhammad Fawait soal PKI diperingatan Hari Santri Nasional, pada 21 Oktober 2024 di Kecamatan Silo, terus menjadi pembahasan di media sosial.
Hal ini memicu banyak pro dan kontra dari masyarakat, bahkan banyak yang memframing dalam urusan Pilkada Jember.
Kondisi tersebut, membuat banyak perspektif dari pengamat dari perguruan tinggi terkait isu yang merebak di media sosial tersebut.
Baca Juga: Relawan Prabowo Siap Menangkan Gus Fawait-Djoko Susanto, Ini Harapannya di Sektor Pertanian
Wakil Dekan 3 Fakultas Dakwah dan Humaniora UIN Khas Jember Minan Jauhari mengatakan, persoalan politik di Jember saat ini sudah diwarnai dengan digital, sehingga politik digital menjadi salah satu corong yang terjadi di politik Jember.
“Dinamika yang diciptakan ini memungkinkan masyarakat bisa mudah terpicu atau terprovokasi, jika ada isu-isu yang berkembang atau konten yang dianggap bermasalah,” ujarnya saat dikofirmasi, Kamis 30 September 2024.
Dengan kondisi tersebut menurut Minan, hal yang perlu diantisipasi dengan berkembangnya Politik Digital ini adalah konflik yang terjadi.
Baca Juga: Para PKL Jember Sampaikan Aspirasi, Gus Fawait Berkomitmen untuk Majukan Ekonomi Rakyat Kecil
“Jadi bisa saja isu yang berkembang ini dimanfaatkan untuk memicu konflik yang lebih besar, sehingga bisa memprovokasi masyarakat,” imbuhnya.
Seperti pernyataan Gus Fawait kepada para santri tentang PKI di malam refleksi Hari Santri Nasional 2024, menurut Minan bukan persoalan PKI-nya tetapi muatan tentang perjuangan santri dan ulama dalam mempertahankan bangsa salah satunya menghadapi PKI.
“Bila dilihat isu PKI ini menjadi komoditas poltik yang digunakan oleh pihak-pihak memanfaatkannya untuk menciptakan provokasi, sehingga bila ditelaah bila provokasi ini menciptakan hal yang tidak diinginkan di masyarakat,” terangnya.
Baca Juga: Ratusan Guru Ngaji di Jember Berikan Dukungan ke Gus Fawait-Djoko, Ini Harapan Besarnya
Minan menegaskan, isu PKI ini sudah merebak di media sosial sudah bukan hal itu yang dibahas, tetapi beralih pada konten hoax yang provokatif.
“Konten ini malah direproduksi oleh pihak-pihak tertentu, kemudian disampaikan tidak utuh hingga disalahgunakan,” imbuhnya.
Artikel Terkait
Angka Pengangguran Tinggi di Jember, Gus Fawait-Djoko Susanto Fokusnya Pengembalian Retribusi dan Perbaikan Infrastruktur Pasar
APBD Jember Besar tapi Kemiskinan Tertinggi ke-2 di Jatim, Gus Fawait-Djoko: Rakyat Butuh Keadilan
Komitmen Gus Fawait-Djoko Susanto Hidupkan Bandara hingga Meningkatkan Investasi di Jember
Cabup Jember Gus Fawait Pastikan Pelayanan Kesehatan Berbasis Sistem UHC: Pasien Bisa Berobat di Seluruh Indonesia
Ratusan Alumni Pondok Pesantren Dukung Gus Fawait-Djoko Susanto, Paslon No Urut 02 Tegaskan Komitmen Pada Santri