SketsaNusantara.id - Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan kesehatan di sejumlah negara Asia.
Meski belum ditemukan lonjakan kasus di Indonesia, informasi mengenai virus ini penting dipahami secara utuh agar masyarakat tetap waspada tanpa diliputi kepanikan berlebihan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun X (dulu Twitter) @dosenkesmas, Virus Nipah dijelaskan sebagai virus zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Meski belum ditemukan lonjakan kasus di Indonesia, informasi mengenai virus ini penting dipahami secara utuh agar masyarakat tetap waspada tanpa diliputi kepanikan berlebihan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun X (dulu Twitter) @dosenkesmas, Virus Nipah dijelaskan sebagai virus zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Baca Juga: Heboh Virus Influenza H3N2 Masuk ke Indonesia, Menkes Sebut Superflu Tak Separah COVID-19, Masyarakat Diminta Tetap Waspada Jaga Kesehatan
“Virus Nipah (NiV) adalah virus zoonosis: artinya bisa menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya,” tulis akunn tersebut.
Penjelasan ini menekankan bahwa interaksi manusia dengan hewan memiliki peran besar dalam rantai penularan penyakit.
Unggahan tersebut juga menjelaskan bahwa reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah (flying fox).
“Virus Nipah (NiV) adalah virus zoonosis: artinya bisa menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya,” tulis akunn tersebut.
Penjelasan ini menekankan bahwa interaksi manusia dengan hewan memiliki peran besar dalam rantai penularan penyakit.
Unggahan tersebut juga menjelaskan bahwa reservoir alami virus Nipah adalah kelelawar buah (flying fox).
Baca Juga: Apa itu Superflu? Waspada Penyebaran Virus Influenza H3N2 yang Masuk ke Indonesia dan Banyak Terdeteksi di Jatim, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya
“Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (flying fox), dan bisa menular lewat kontak dengan hewan/sekresi mereka atau lewat manusia ke manusia,” demikian penjelasan dari akun tersebut.
Artinya, virus ini tidak hanya berhenti pada hewan, tetapi berpotensi menyebar antarmanusia.
Lebih lanjut, terdapat beberapa jalur penularan utama yang perlu diwaspadai.
“Reservoir alaminya adalah kelelawar buah (flying fox), dan bisa menular lewat kontak dengan hewan/sekresi mereka atau lewat manusia ke manusia,” demikian penjelasan dari akun tersebut.
Artinya, virus ini tidak hanya berhenti pada hewan, tetapi berpotensi menyebar antarmanusia.
Lebih lanjut, terdapat beberapa jalur penularan utama yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: Deretan Nama Artis Indonesia Terjangkit Virus Tren Aura Farming, Pertama Luna Maya dengan Banana Boatnya, Satu Lagi Ada...
Pertama, kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau cairan tubuhnya.
Kedua, konsumsi makanan yang telah terkontaminasi, seperti buah atau getah palem dari kelelawar.
Ketiga, kontak dekat dengan manusia yang terinfeksi, yang dapat terjadi melalui tetesan pernapasan, urin atau darah.
Penularan melalui makanan terkontaminasi menjadi perhatian khusus di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, mengingat konsumsi produk segar yang berpotensi terpapar hewan liar masih umum dilakukan.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi yang relatif panjang. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa gejala dapat muncul setelah 4-14 hari setelah terpapar virus.
Gejala awal yang umum meliputi demam, sakit kepala, batuk, serta gangguan pernapasan.
Namun, yang membuat virus ini berbahaya adalah potensi komplikasi beratnya.
Dalam skala berat dapat berpotensi menjadi pembengkakan otak (ensefalitis) bahkan kematian.
Kondisi ensefalitis dapat menyebabkan gangguan kesadaran, kejang, hingga kerusakan sistem saraf pusat secara permanen.
Tingkat keparahan inilah yang menjadikan Virus Nipah sebagai salah satu penyakit menular dengan tingkat fatalitas tinggi.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam unggahan tersebut adalah tingginya tingkat kematian akibat Virus Nipah.
Tingkat kematian NiV dapat terjadi 40-75% kasus. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh hingga tiga perempat kasus yang terinfeksi berisiko meninggal dunia, terutama jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Meski demikian, para ahli kesehatan menegaskan bahwa angka kematian tinggi ini umumnya terjadi di wilayah dengan keterbatasan sistem kesehatan dan keterlambatan diagnosis.
Dalam unggahan @dosenkesmas, pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman Virus Nipah.
Biasakan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, serta hindari kontak dengan kelelawar termasuk makanan minuman yang dapat terkontaminasi oleh hewan tersebut.
Selain itu, diperlukan kesiapan fasilitas kesehatan. Disebutkan pula, perlu adanya praktik pengendalian infeksi standar khususnya di RS.
Hal ini mencakup penggunaan alat pelindung diri, isolasi pasien, serta protokol penanganan penyakit menular yang ketat.***
Pertama, kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau cairan tubuhnya.
Kedua, konsumsi makanan yang telah terkontaminasi, seperti buah atau getah palem dari kelelawar.
Ketiga, kontak dekat dengan manusia yang terinfeksi, yang dapat terjadi melalui tetesan pernapasan, urin atau darah.
Penularan melalui makanan terkontaminasi menjadi perhatian khusus di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, mengingat konsumsi produk segar yang berpotensi terpapar hewan liar masih umum dilakukan.
Virus Nipah memiliki masa inkubasi yang relatif panjang. Dalam unggahan tersebut dijelaskan bahwa gejala dapat muncul setelah 4-14 hari setelah terpapar virus.
Gejala awal yang umum meliputi demam, sakit kepala, batuk, serta gangguan pernapasan.
Namun, yang membuat virus ini berbahaya adalah potensi komplikasi beratnya.
Dalam skala berat dapat berpotensi menjadi pembengkakan otak (ensefalitis) bahkan kematian.
Kondisi ensefalitis dapat menyebabkan gangguan kesadaran, kejang, hingga kerusakan sistem saraf pusat secara permanen.
Tingkat keparahan inilah yang menjadikan Virus Nipah sebagai salah satu penyakit menular dengan tingkat fatalitas tinggi.
Salah satu poin penting yang ditekankan dalam unggahan tersebut adalah tingginya tingkat kematian akibat Virus Nipah.
Tingkat kematian NiV dapat terjadi 40-75% kasus. Angka ini menunjukkan bahwa hampir separuh hingga tiga perempat kasus yang terinfeksi berisiko meninggal dunia, terutama jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat.
Meski demikian, para ahli kesehatan menegaskan bahwa angka kematian tinggi ini umumnya terjadi di wilayah dengan keterbatasan sistem kesehatan dan keterlambatan diagnosis.
Dalam unggahan @dosenkesmas, pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman Virus Nipah.
Biasakan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, serta hindari kontak dengan kelelawar termasuk makanan minuman yang dapat terkontaminasi oleh hewan tersebut.
Selain itu, diperlukan kesiapan fasilitas kesehatan. Disebutkan pula, perlu adanya praktik pengendalian infeksi standar khususnya di RS.
Hal ini mencakup penggunaan alat pelindung diri, isolasi pasien, serta protokol penanganan penyakit menular yang ketat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Kerap Dianggap Lemot, Terbongkar Masalah Hidup Vior! Bermula Sejak Sang Ibu Salah Makan Saat Hamil, Kena Virus Apa?
Sudah Masuk Indonesia, Apa Itu Virus HMPV? Ini Penyebab, Gejala hingga Pencegahan Penyakit yang Disebut Mirip Flu
4 Perbedaan HMPV dan Covid-19, Sama-Sama Virus yang Menyerang Saluran Pernapasan hingga Miliki Gejala Seperti Flu
Tren Video Tiktok Velocity Makin Meradang! Giliran Yuki Kato dan Teman-temannya Meramaikan Filter Satu Ini: Virus Velocity
Apa itu Superflu? Waspada Penyebaran Virus Influenza H3N2 yang Masuk ke Indonesia dan Banyak Terdeteksi di Jatim, Ini Gejala dan Cara Pencegahannya