Pembersihan dilakukan menggunakan alat berat karena ketebalan lumpur cukup tinggi. Lumpur bahkan sempat menutupi sebagian struktur rumah.
Upaya pemulihan juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta percepatan pembersihan lumpur sebelum Ramadan.
Arahan tersebut disampaikan saat penyerahan bantuan di Aceh Tamiang. Pemerintah daerah diminta memaksimalkan waktu yang tersisa.
Selain pembersihan permukiman, fokus juga diarahkan ke alur sungai. Endapan lumpur dinilai menghambat pemulihan wilayah terdampak.
Pemerintah pusat mendorong penambahan personel lapangan. Keterlibatan TNI, Polri, dan siswa sekolah ikatan dinas diperhitungkan.
Penambahan tenaga mempertimbangkan kondisi fisik petugas menjelang puasa. Beban kerja dinilai lebih berat saat Ramadan berlangsung.
Berdasarkan jadwal Muhammadiyah, Ramadan diperkirakan dimulai 18 Februari 2026. Rentang waktu tersisa menjadi krusial bagi percepatan pembersihan.
Hingga kini, proses pemulihan masih terus berjalan di berbagai wilayah Aceh. Lumpur pascabanjir tetap menjadi tantangan utama menjelang bulan ibadah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Salim A Fillah Bagikan Momen Haru di Aceh, Durian Terakhir Warga Jadi Simbol Ketulusan
Kasus Dugaan Pungli Relawan Aceh di Terminal Karya Jaya, BPTD Sumsel Ungkap Fakta Versi Petugas
45 Hari Pasca Banjir Bandang, Aceh Tamiang Masih Terpuruk, Warga Kesulitan Bersihkan Sisa Lumpur dan Puing-puing
Didukung BRI dan BUMN, 600 Hunian Danantara Resmi Dihuni Warga Terdampak Bencana di Aceh Tamiang
Masyarakat Korban Banjir Aceh Menjerit Tak Dapat Bantuan, DPRK Bireuen Temukan Timbunan Puluhan Ton Bantuan di Gudang BPBD Yang Hampir Kadaluarsa