Jumat, 10 Juli 2026

Siapa Prof. Warsito? Inilah Penemu Alat Terapi Kanker yang Diakui Dunia, Namun Kliniknya Justru Ditutup Pemerintah

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Rabu, 20 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Momen Prof. Warsito (kiri) dan Bu Tohiroh (kanan) yang telah menggunakan alat terapi kanker. (Instagram/warsito_p_taruno)
Momen Prof. Warsito (kiri) dan Bu Tohiroh (kanan) yang telah menggunakan alat terapi kanker. (Instagram/warsito_p_taruno)

 

SketsaNusantara.id - Nama Prof. Dr. Warsito Purwo Taruno kembali menjadi sorotan publik setelah kisahnya diangkat oleh akun Instagram @kamusmahasiswa, menghadirkan inovasi terapi kanker non-invasif berbasis medan listrik ramai dibicarakan warganet.

Ilmuwan asal Indonesia ini dikenal sebagai sosok visioner yang mendedikasikan hidupnya untuk riset dan inovasi kesehatan, terutama dalam penanganan kanker.

Teknologi temuannya dikembangkan sejak tahun 2004 melalui penelitian intensif yang bahkan sempat digunakan oleh NASA dan diuji di Jepang.

Baca Juga: Lewati Tangis dan Terapi, Shireen Sungkar Bagikan Kisah Mendalam tentang Perjuangan Anaknya Hadapi Speech Delay

Atas kontribusinya, Warsito dianugerahi BJ Habibie Award pada tahun 2010.

Metode terapi kanker ciptaannya disebut mampu memberikan harapan baru bagi pasien kanker yang selama ini hanya mengenal pengobatan konvensional.

Namun, meski mendapat pengakuan internasional, perjalanan Warsito di tanah air tidak berjalan mulus.

Baca Juga: Immunotherapy Nusantara Itu Apa? 4 Manfaat Terapi Kesehatan yang Dilakukan Raffi Ahmad dengan dr Terawan Agus Putranto

Pada tahun 2015, klinik terapi kanker miliknya justru ditutup pemerintah.

Otoritas kesehatan menyatakan alat terapi tersebut belum memenuhi standar medis yang berlaku.

Keputusan ini memicu pro dan kontra, terutama dari kalangan pasien dan keluarga penderita kanker yang telah merasakan manfaat dari terapi tersebut.

Baca Juga: Betharia Sonata Lakukan Terapi Pasca Serangan Stroke, Leon Dozan Beberkan Kondisi Terkini

Banyak yang kecewa karena kehilangan alternatif pengobatan yang dianggap lebih ringan dan minim efek samping dibanding operasi maupun kemoterapi.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X