Minggu, 19 Juli 2026

Kakek di Jember Tekuni Profesi Tradisional, Sambung Hidup dari Hasil Produksi Arang

Photo Author
Gita Pamuji, Sketsa Nusantara
- Senin, 14 Juli 2025 | 18:00 WIB
Kakek Hos Nyaruki (baju hijau) saat membuat arang. (SketsaNusantara.id/Gita Pamuji)
Kakek Hos Nyaruki (baju hijau) saat membuat arang. (SketsaNusantara.id/Gita Pamuji)

 

SketsaNusantara.id - Seorang kakek bernama Hos Nyaruki di Dusun Curahlaos, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari, Jember tetap menekuni profesi tradisional di tengah derasnya disrupsi teknologi.

Bahkan dirinya, bisa bertahan hidup, hanya dengan mengandalkan arang hasil produksinya.

“Setiap hari pasti saya membuat arang. Kalau belum ada yang memesan, arang itu saya jajakan,” kata Hos Nyaruki, Senin 14 Juli 2025.

Baca Juga: Siapa Nama Cucu Pertama Tora Sudiro? Intip 3 Fakta Kebahagiaan Suami Mieke Amalia yang Kini Resmi Jadi Kakek

Selanjutnya kata dia, kendati pesanan sedang sepi, tungkunya tidak akan dibiarkan dingin. Produksi arangnya memang tidak selalu stabil, sebab pembeli setianya seperti tukang sate hingga pemilik gudang tidak setiap hari memesan arang.

“Jika yang memesan arang menurun, dalam sehari saya mampu menghasilkan lima karung,” ujarnya.

Sementara itu, jika arang yang dibutuhkan oleh pembeli sangat banyak, maka pak Hos harus memasok arang dari tetangganya untuk dijual kembali. Baginya, kepercayaan pelanggan merupakan hal yang utama.

Baca Juga: Resmi Sandang Status Kakek! Tora Sudiro Bagikan Potret Cucu Laki-laki Pertama di Instagram, Mieke Amalia: Welcome to The World, Baby Noa...

“Kalau pesanan banyak, saya beli dari orang sekitar, terus saya jual ke langganan. Yang penting, mereka tidak kecewa,” paparnya.

Arang buatannya dipasarkan dengan harga yang terjangkau. Mulai dari angka 50 ribu - 70 ribu per-karung. Wilayah pengirimannya dari Kecamatan Mumbulsari ke Jenggawah, Ajung, Ambulu dan sekitarnya.

“Dulu saya nganter pakai sepeda, kadang jauh-jauh ke Jenggawah. Sekarang sudah pakai motor, alhamdulillah lebih ringan,” tandasnya.

Sebagai informasi, pak Hos telah mewariskan keterampilan dan pengetahuan tentang pembuatan arang kepada anak-anaknya. Baginya, tradisi tidak harus ditinggalkan dalam menjalani hidup, melainkan harus diselaraskan dengan perkembangan zaman.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X