Namun, customer Fore Coffee yang diketahui mengaku sebagai “orang pelayaran” justru menanggapi dengan nada arogan dan mempertanyakan kedisiplinan driver.
Konflik tak berhenti di adu mulut. Ketegangan meningkat saat perempuan yang menemani sang driver mencoba membantu menjelaskan sistem double order kepada customer.
Namun, menurut pengakuan korban, seorang pria lain yang diduga saudara customer langsung menyeret dan menjambaknya. Tindakan ini mengakibatkan luka lecet di wajah dan tangan korban.
Korban juga menyebut bahwa dirinya sempat diseret, ditarik, dan dijambak oleh dua pria lainnya di lokasi. Sementara keluarga customer yang seharusnya melerai, justru ikut melakukan intimidasi.
Korban yang sempat merekam sebagian kejadian akhirnya berhenti karena memorinya penuh, lalu mencoba siaran langsung di Instagram. Warga sekitar akhirnya datang dan membantu melerai, hingga pasangan tersebut berhasil menyelamatkan diri.
Setelah kejadian ini viral di media sosial, ratusan driver ShopeeFood di Yogyakarta menunjukkan solidaritas mereka. Pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari (5 Juli 2025), para driver mendatangi rumah customer di kawasan Godean.
Pantauan warga dan media sosial menunjukkan bahwa mulai pukul 01.00 WIB, suasana di depan rumah customer mulai ramai dengan kehadiran "konco-konco orange", sebutan untuk driver Shopee.
Pada pukul 03.26 WIB, customer akhirnya muncul di Polres Sleman dan memberikan permohonan maaf, meski suaranya tidak terdengar jelas dalam rekaman. Beberapa driver merasa klarifikasi itu tidak memadai.
Suasana pun sempat kembali memanas hingga pukul 05.03 WIB dilaporkan terjadi kericuhan kecil di depan gang dekat rumah customer.
Dari sisi hukum, kasus ini dapat dijerat Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan Pasal 315 KUHP tentang penghinaan. Namun karena ancaman hukuman berada di bawah lima tahun, besar kemungkinan kasus ini akan diarahkan ke jalur restorative justice, yaitu penyelesaian melalui permintaan maaf, kompensasi, atau mediasi antara pihak.
Namun demikian, pihak korban berharap agar proses hukum tetap ditegakkan secara adil karena trauma yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tetapi juga psikis. Rekaman kejadian dan saksi dari rekan-rekan ojol di lokasi menjadi bukti penting dalam penyelidikan lebih lanjut.
Kasus ini membuka diskusi lebih luas mengenai perlakuan terhadap pekerja lapangan seperti driver ojol. Ketidaksabaran, kurangnya empati, dan ketidaktahuan terhadap sistem operasional aplikasi dapat menimbulkan konflik yang tidak perlu.
Artikel Terkait
Dari Lapangan Voli ke Pelaminan, Megawati Hangestri Resmi Menikah dengan Atlet Finswimming di Jember
Megawati Hangestri, Bintang Voli Asal Jember Siap Guncang Liga Turki, Klub Barunya Bikin Penasaran!
Bikin Heboh! Ini Fakta Menarik Dio Novandra, Sang Pendamping Setia Megawati Hangestri
Tolak Kremasi, Ayah Juliana Marins Bersikeras Tunggu Hasil Otopsi Ulang
Menteri UMKM Maman Abdurrahman Tegaskan Tak Gunakan Uang Negara untuk Perjalanan Istri ke Eropa, Datangi KPK Bawa Bukti Lengkap
Resmi Menikah, Begini Cerita Cinta Megawati dengan Sang Suami