Artinya adalah: “Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Ungkapan ini menegaskan ketergantungan total manusia pada kuasa Ilahi. Dalam ajaran tasawuf, kalimat ini sering diulang sebagai bentuk penyerahan diri total atas segala takdir dan ikhtiar.
Menariknya, KH Miftahul Akhyar menekankan pentingnya membaca dzikir tersebut tepat 100 kali.
Tidak lebih dan tidak kurang. Ini bukan sekadar aturan teknis, tapi menunjukkan adanya kedisiplinan spiritual dan keikhlasan dalam melafalkan setiap kalimat.
Angka 100 dalam tradisi dzikir juga sering dianggap sebagai jumlah yang cukup untuk mencapai ketenangan batin dan kekuatan spiritual.
Banyak ulama dan tokoh sufi percaya bahwa kefakiran sejati bukan hanya persoalan materi, tetapi kondisi batin yang merasa kekurangan, meskipun harta berlimpah.
Dzikir ini menjadi upaya menjaga keseimbangan antara ikhtiar duniawi dan ketenangan hati.
Bagi mereka yang rutin mengamalkannya, dzikir ini tak hanya memberi rasa tenang, tetapi juga diyakini membuka jalan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Walau demikian, tentu saja doa tidak boleh dilepaskan dari usaha nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan kata lain, dzikir menjadi pelengkap dan penguat, bukan pengganti usaha.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Gajian Cepat Habis? Coba Amalan Singkat ini agar Dompet Tak Pernah Kosong dan Rezeki Selalu Mengalir
Apa Amalan untuk Malam Idul Adha? Buya Yahya Anjurkan Perbanyak Membaca Ini Jelang Hari Raya Kurban Sesuai Ajaran Islam
6 Amalan Ini Bisa Dikerjakan Wanita Muslimah Haid di Bulan Dzulhijjah Termasuk Saat Hari Arafah dan Idul Adha
5 Amalan Sunnah yang Dianjurkan Dilakukan Saat Menjalankan Sholat Idul Adha
Amalan Hari Arafah 9 Dzulhijjah 2025 untuk Umat Muslim yang Terhalang Berpuasa: Terbaik Memohon Ampunan dan Berdoa