Kamis, 4 Juni 2026

7 Fakta Masoud Pezeshkian Presiden Iran yang Undang Prabowo di Tengah Gempuran Israel: Dokter Jantung Anti Amerika Serikat yang Pernah Ikut Perang

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Rabu, 18 Juni 2025 | 12:30 WIB
Profil Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan fakta-fakta menarik. (Instagram/drpezeshkian_ir)
Profil Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan fakta-fakta menarik. (Instagram/drpezeshkian_ir)

SketsaNusantara.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian tiba-tiba menjadi sorotan dunia internasional. Bukan hanya karena ia memimpin Iran di tengah panasnya konflik melawan Zionis Israel, tetapi juga karena ia mengundang Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk berkunjung ke Teheran.

Undangan ini disampaikan langsung oleh Duta Besar Iran untuk RI, Mohammad Boroujerdi, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 18 Juni 2025.

"Melalui kesempatan ini saya menyampaikan undangan kembali kepada Yang Mulia Presiden Prabowo untuk kunjungi Iran," ujar Boroujerdi.

Baca Juga: Iran Ajak Prabowo ke Teheran saat Diserang Zionis Israel, Indonesia Dinilai Bisa Jadi Penetral Dunia Internasional

Lalu, siapa sebenarnya Masoud Pezeshkian?

Dirangkum SketsaNusantara.id dari sejumlah sumber, berikut 7 fakta menarik tentang presiden Iran ke-9 yang tidak hanya dikenal sebagai pemimpin, tapi juga sosok multidimensi yang unik.

1. Seorang Dokter Jantung yang Pernah Terjun di Medan Perang

Pezeshkian bukanlah politikus karbitan. Ia memulai karier sebagai dokter dan mengabdi di garis depan saat Perang Iran–Irak (1980–1988). Ia dikenal sering turun langsung mengirim tim medis ke medan pertempuran.

Baca Juga: 386 WNI Terjebak di Iran saat Serangan Teroris Zionis Israel Meningkat, Pemerintah RI Siapkan Rencana Evakuasi Diam-Diam

Setelah perang, ia menyelesaikan spesialisasi bedah umum dan kemudian menjadi ahli bedah jantung. Pada 1994–1999, ia menjabat Presiden Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz.

2. Tokoh Reformis yang Pernah Gagal Maju Capres 2 Kali

Meski kini menjabat Presiden, Pezeshkian pernah dua kali gagal mencalonkan diri: ia mundur di Pilpres 2013 dan ditolak oleh otoritas pemilu di Pilpres 2021.

Baru pada 2024, ia menang melawan calon konservatif Saeed Jalili, membawa harapan reformis di tengah krisis domestik dan eksternal Iran.

3. Pendukung Garis Keras IRGC dan Anti-Blok AS

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X