Kepala Pusat Meteorologi Maritim BMKG, menyebut fenomena ini disebabkan oleh dorongan angin laut yang mendorong ikan-ikan kecil mengikuti arus hingga terdampar di pesisir pantai.
BMKG juga menghimbau kepada masyarakat agar tidak panik karena fenomena ini bukan sebagai pertanda akan terjadi gempa atau tsunami.
"Terkadang, fenomena ribuan ikan terdampar di pantai juga disalahartikan sebagai tanda bencana seperti gempa atau tsunami. Jangan mudah panik, pastikan untuk selalu memverifikasi informasi melalui sumber yang terpercaya," tuturnya.
Meski terkadang dikaitkan dengan bencana alam, fenomena ini sebenarnya bisa disebabkan oleh beberapa faktor lingkungan yang kemudian mempengaruhi perilaku ikan. BMKG menjelaskan bahwa beberapa faktor oseanografi berperan dalam kejadian ini.
Baca Juga: Siaga Cuaca Ekstrem, BMKG Berikan Peringatan Dini untuk Wilayah Indonesia
Angin laut yang kuat dapat mendorong ikan-ikan kecil ke arah pantai. Faktor kesuburan perairan, seperti kandungan klorofil-a yang tinggi, menarik ikan-ikan kecil untuk mendekati garis pantai karena unsur hara yang dibutuhkan ikan tersedia di sana.
"Fenomena ini dapat dipengaruhi oleh perubahan suhu air, tingkat oksigen atau arus laut yang membawa ikan-ikan ini lebih dekat ke permukaan," ungkap BMKG.
"Selain itu, kondisi cuaca ekstrem atau penurunan kualitas air juga dapat memicu ikan untuk berkumpul di daerah yang lebih dangkal hingga terdampar menuju pantai," imbuhnya.
Kualitas air yang buruk akibat polusi atau terjadinya ledakan alga juga bisa membuat ikan-ikan kecil "mabuk" atau kehilangan arah yang dapat menyebabkan mereka menepi ke pantai.
"Ketika alga mati dan membusuk, kadar oksigen dalam air menurun dan membuat ikan tidak nyaman atai bahkan mati. Akibatnya, ikan naik ke permukaan dan ada yang terdampar ke pantai," sambung BMKG.
"Selain penurunan kadar oksigen, ledakan alga juga bisa melepaskan racun yang mengganggu sistem pernafasan ikan. Hal inilah yang membuat sekumpulan ikan terpaksa mencari daerah dengan air yang lebih bersih seperti di permukaan atau dekat pantai," tuturnya.
Fenomena ini dianggap sebagai ketidaknormalan oseanografi yang langka, namun tidak berhubungan dengan aktivitas seismik seperti gempa atau tsunami.
Artikel Terkait
Apa itu Worm Blood Moon? Intip 5 Fakta Menarik Fenomena Langka Bulan Darah yang Bisa Dilihat di Indonesia saat Gerhana Bulan Total 14 Maret 2025
Unik, NASA Ungkap Terjadinya Fenomena Langka 'Smiley Face' yang Bisa Dilihat 25 April 2025, Penampakan dari Indonesia Bakal Jadi 'Sad Face'?
Turis Asal Spanyol Bakal Melancong ke Jember, Dinas Pariwisata Siapkan Wisata Edukasi: Mereka Akan Lihat Pengolahan Kopi
Pemkab Jember Rencanakan Buka Jalur Pendakian Gunung Argopuro, Kadispar: Ini Potensi Wisata yang Sangat Besar
Ditangkap di Bali, Inilah Motif Youtuber Jember Sebut Nabi Muhammad sebagai Tikoh Fiktif
Pelarian 7 Tahun Berakhir, Pria Jember Diringkus atas Pembunuhan Berencana, Balas Dendam karena Saudaranya Disantet