Kamis, 4 Juni 2026

Fakta-Fakta Menarik Hujan Meteor Eta Aquarids 2025: Jangan Lewatkan Puncaknya!

Photo Author
Dimas Rizky Maulana, Sketsa Nusantara
- Minggu, 4 Mei 2025 | 14:30 WIB
Ilustrasi.  Langit yang dipenuhi dengan hujan Eta Aquarids. (Pexels/Scott Lord)
Ilustrasi. Langit yang dipenuhi dengan hujan Eta Aquarids. (Pexels/Scott Lord)

SketsaNusantara.id - Langit malam di awal Mei 2025 kembali dihiasi oleh salah satu fenomena astronomi paling memikat, hujan meteor Eta Aquarids.

Fenomena ini terjadi setiap tahun dan mencapai puncaknya sekitar tanggal 5 hingga 6 Mei, ketika Bumi melintasi jejak debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley, komet legendaris yang telah menginspirasi pengamatan langit sejak zaman kuno.

Menurut International Meteor Organization (IMO), Eta Aquarids dikenal dengan kecepatannya yang tinggi dan ekornya yang panjang serta terang.

Baca Juga: Heboh, Beredar Video Benda Bercahaya Jatuh dari Langit Sumatera Selatan, Benarkah Ada Meteor Jatuh di Indonesia? Begini Tanggapan BRIN

Meteor-meteor ini memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik, menciptakan kilatan cahaya cepat yang terlihat seperti meluncur dari arah rasi Aquarius, tepatnya dari dekat bintang Eta Aquarii—yang menjadi asal penamaannya.

Dilansir dari National Aeronautics and Space Administation (NASA), Pada puncaknya, pengamat langit di daerah tropis dan belahan bumi selatan berpeluang melihat 20 hingga 40 meteor per jam, selama langit cerah dan bebas polusi cahaya.

Tahun ini, kondisi langit dinilai cukup ideal untuk menyaksikan pertunjukan ini. Bulan akan berada dalam fase sabit menua, sehingga cahayanya tidak terlalu mengganggu pandangan.

Baca Juga: Masih Aktif Setelah 100 Tahun! Salah Satu Pabrik Tertua di Jember Ini Jadi Penopang Ekspor Pertanian dan Perikanan di Bumi Pandhalungan

Waktu terbaik untuk menyaksikan Eta Aquarids adalah dini hari menjelang fajar, ketika radian meteor sudah cukup tinggi di atas cakrawala.

Cukup berbaring di tempat gelap yang lapang dan menunggu beberapa saat agar mata terbiasa dengan gelap—tanpa perlu alat bantu seperti teleskop atau binokular—para pengamat bisa menikmati keindahan langit yang menampilkan kilasan cahaya alami dari luar angkasa.

Fenomena ini tidak hanya mengesankan dari segi visual, tetapi juga menyimpan nilai ilmiah dan historis.

Komet Halley, penyebab hujan meteor ini, adalah komet paling terkenal yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan tercatat muncul secara periodik setiap 76 tahun.

Meskipun komet tersebut baru akan terlihat kembali pada tahun 2061, jejak debunya tetap meninggalkan “jejak pertunjukan” tahunan yang menakjubkan di langit Bumi.

Eta Aquarids menjadi salah satu momen yang mempertemukan sains, alam, dan rasa kagum manusia akan semesta. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh layar, langit yang menyala oleh jejak debu kuno ini menjadi pengingat betapa kecilnya kita di tengah luasnya kosmos.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X