SketsaNusantara.id - Langit malam di awal Mei 2025 kembali dihiasi oleh salah satu fenomena astronomi paling memikat, hujan meteor Eta Aquarids.
Fenomena ini terjadi setiap tahun dan mencapai puncaknya sekitar tanggal 5 hingga 6 Mei, ketika Bumi melintasi jejak debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley, komet legendaris yang telah menginspirasi pengamatan langit sejak zaman kuno.
Menurut International Meteor Organization (IMO), Eta Aquarids dikenal dengan kecepatannya yang tinggi dan ekornya yang panjang serta terang.
Meteor-meteor ini memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan sekitar 66 kilometer per detik, menciptakan kilatan cahaya cepat yang terlihat seperti meluncur dari arah rasi Aquarius, tepatnya dari dekat bintang Eta Aquarii—yang menjadi asal penamaannya.
Dilansir dari National Aeronautics and Space Administation (NASA), Pada puncaknya, pengamat langit di daerah tropis dan belahan bumi selatan berpeluang melihat 20 hingga 40 meteor per jam, selama langit cerah dan bebas polusi cahaya.
Tahun ini, kondisi langit dinilai cukup ideal untuk menyaksikan pertunjukan ini. Bulan akan berada dalam fase sabit menua, sehingga cahayanya tidak terlalu mengganggu pandangan.
Waktu terbaik untuk menyaksikan Eta Aquarids adalah dini hari menjelang fajar, ketika radian meteor sudah cukup tinggi di atas cakrawala.
Cukup berbaring di tempat gelap yang lapang dan menunggu beberapa saat agar mata terbiasa dengan gelap—tanpa perlu alat bantu seperti teleskop atau binokular—para pengamat bisa menikmati keindahan langit yang menampilkan kilasan cahaya alami dari luar angkasa.
Fenomena ini tidak hanya mengesankan dari segi visual, tetapi juga menyimpan nilai ilmiah dan historis.
Komet Halley, penyebab hujan meteor ini, adalah komet paling terkenal yang dapat dilihat dengan mata telanjang dan tercatat muncul secara periodik setiap 76 tahun.
Meskipun komet tersebut baru akan terlihat kembali pada tahun 2061, jejak debunya tetap meninggalkan “jejak pertunjukan” tahunan yang menakjubkan di langit Bumi.
Eta Aquarids menjadi salah satu momen yang mempertemukan sains, alam, dan rasa kagum manusia akan semesta. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh layar, langit yang menyala oleh jejak debu kuno ini menjadi pengingat betapa kecilnya kita di tengah luasnya kosmos.
Artikel Terkait
Dilan Janiyar Ungkap Harus Berikan 800 Juta sebagai Harta Gono-gini setelah Perselingkuhan sang Suami
Hengkang dari Persib, Ciro Alves Siap Jadi WNI dan Bangun Bisnis di Bandung, Peluang Gabung Timnas Indonesia Terbuka?
Nekat Beroperasi Meski Sudah Disegel, Gudang CV Sentoso Seal Milik Jan Hwa Diana Dirantai Walkot Surabaya Eri Cahyadi
Langkah Tim Bulu Tangkis Indonesia Harus Terhenti di Babak Empat Besar Piala Sudirman 2025 saat Lawan Korea Selatan
Akun Instagram Resmi Oxford United Pasang Foto Pemain Timnas Indonesia Marselino Ferdinan, Ada Apa?