Minggu, 19 Juli 2026

LDNU Diwek Gelar Pengajian Kitab al- Muqtathofat, Solusi Perkuat NU-isme

Photo Author
As'ad Choirudin, Sketsa Nusantara
- Kamis, 24 April 2025 | 07:15 WIB
Ustadz Prabu Fanani saat pengajian rutin Rabu Kliwon yang diselenggarakan LDNU Diwek, Jombang. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)
Ustadz Prabu Fanani saat pengajian rutin Rabu Kliwon yang diselenggarakan LDNU Diwek, Jombang. (SketsaNusantara.id/As'ad Choirudin)

SketsaNusantara.id – Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kecamatan Diwek rutin menggelar pengajian kitab setiap Rabu Kliwon. Kegiatan dilaksanakan di kantor MWCNU Diwek.

Kitab al- Muqtathofat karya Dr KH. Marzuqi Mustamar menjadi pilihan kajian kali ini. Kajian disampaikan oleh Ustadz Prabu Fanani.

Pengajian yang juga dihadiri oleh perwakilan LBM NU dan IPPNU ini menjadi lahan sangat cocok dalam menguatkan NU-isme di tengah-tengah badai tuduhan Wahabi dan kaum orientalis. "Kita harus yakin dan mantab dengan NU, tidak ada satupun yang diajarkan oleh NU tanpa berdasar dalil," tuturnya, Rabu 23 April 2025, malam.

Baca Juga: Gelar Rutinan, Hasil Bahtsul Masail LBM NU Diwek Jombang Sepakat Dibukukan

Ia kemudian menjelaskan seputar gelar sahabat yang tidak sembarang orang bisa menyematkannya. Termasuk juga kemuliaan sahabat, hingga tentang bid'ah yang sering dilemparkan kelompok di luar NU untuk memecah organisasi terbesar di Nusantara ini.

"Bid'ah itu dibagi dua, bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah," jelasnya. Bid'ah hasanah, lanjutnya, pun masih dibagi tiga. "Baik wajibah, mandhubah, dan mubahah," imbuhnya.

Orang yang sudah memahami konsep ini, tambahnya, tentu tidak akan terbawa arus paham-paham yang tidak jelas. Seperti pemahaman tarawih NU yang identik dengan 20 rakaat.

Baca Juga: Ribuan Massa Hadiri Gebyar Sholawat Puncak HSN 2024 MWC NU Diwek

"Memang bid'ah karena inisiatornya bukanlah Nabi, tetapi sayyidina Umar bin Khattab. Tetapi termasuk bid'ah hasanah", imbuhnya.

Pemahaman seperti ini memang harus diperoleh dengan belajar. "Jangan sampai umat NU kaget dengan tuduhan-tuduhan bid'ah semacam ini," pesannya.

"Di Arab saja shalat tarawehnya ada yang 36 raka'at, di desa-desa ada yang diselingi dengan khataman agar tidak bosan," urainya. "Ada yang taraweh dua jam kuat, ada yang belum 20 menit sudah selesai," candanya.

"Asalkan rukun-rukunnya beres, ya tidak masalah," ujarnya. "Paling hanya kurang khusyuk saja," pungkasnya.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini

 

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X