Kamis, 4 Juni 2026

Bandotan Kerap Disangka Sawi Langit! Kesalahan Sepele yang Bisa Berujung Salah Manfaat dan Risiko Kesehatan

Photo Author
Nurul Huda, Sketsa Nusantara
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:00 WIB
Potret Bandotan. (X/Excel_Dee)
Potret Bandotan. (X/Excel_Dee)

SketsaNusantara.id - Di tengah kekayaan hayati yang tumbuh liar di sekitar pekarangan, sawah, hingga pinggir jalan, masih banyak masyarakat yang keliru membedakan antara tanaman bandotan dan sawi langit.

Keduanya memang kerap ditemukan di lokasi yang sama dan sama-sama tumbuh tanpa dibudidayakan secara khusus.

Namun, anggapan bahwa kedua tanaman ini serupa justru menyimpan potensi kesalahan pemanfaatan yang tidak bisa dianggap remeh.
 
Baca Juga: Jamur Selo Bukan Sekadar Lumut: Dari Sawah hingga Dapur Desa, Inilah Tanda Alam Masih Sehat dan Dijaga dengan Bijak!

Dilansir SketsaNusantara.id dari unggahan akun X @Excel_Dee, kekeliruan ini kerap terjadi karena faktor visual dan lingkungan tumbuh yang mirip.

“Banyak orang masih keliru membedakan Bandotan dan Sawi langit, padahal keduanya adalah tumbuhan yang berbeda jenis, ciri, dan pemanfaatannya,” tulis akun @Excel_Dee.

Pernyataan ini menegaskan bahwa kesamaan tempat tumbuh tidak serta-merta menandakan kesamaan fungsi maupun tingkat keamanannya.
 
Baca Juga: Kopi Tak Lagi Dicurigai, Studi Lebih dari 14 Ribu Orang Ungkap Peminum Kopi Justru Berisiko Lebih Rendah Alami Gagal Ginjal Akut

Bandotan diketahui memiliki nama ilmiah Ageratum conyzoides L., sebuah tanaman herba yang mudah dikenali bila diperhatikan secara saksama.

Ciri paling mencolok dari tanaman ini terletak pada bunganya yang majemuk berbentuk bonggol kecil dengan warna putih keunguan hingga biru muda.

Bunga tersebut biasanya tumbuh di ujung batang dan menjadi pembeda visual yang cukup kuat dibandingkan tanaman liar lainnya.
 
Baca Juga: Tanaman Anting-Anting yang Diremehkan: Acalypha Indica, Gulma Liar dengan Khasiat Herbal, Peran Ekologis, dan Fenomena Unik pada Kucing

Selain bunga, karakter batang dan daun bandotan juga memiliki ciri khas. Batangnya berbentuk bulat, bertekstur lunak, dan ditumbuhi rambut-rambut halus, menandakan bahwa tanaman ini termasuk kelompok herba.

Daunnya berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi dan permukaan yang terasa sedikit kasar bila disentuh. Namun, ciri yang paling khas dan sering luput diperhatikan adalah aromanya.

Saat daun bandotan diremas, akan tercium bau menyengat yang kerap diasosiasikan dengan bau kambing atau bandot. Dari sinilah nama bandotan berasal.

“Ciri paling khas bandotan adalah aroma menyengat seperti bau kambing atau bandot saat daun diremas,” tulis akun @Excel_Dee menjelaskan ciri-cirinya.

Bau tersebut tidak dimiliki oleh sawi langit, sehingga dapat dijadikan penanda utama dalam proses identifikasi lapangan.

Dengan kata lain, indera penciuman menjadi alat bantu sederhana namun efektif untuk membedakan bandotan dari tanaman lain yang sekilas tampak serupa.

Dalam praktik pengobatan tradisional, bandotan bukanlah tanaman asing. Sejak lama, masyarakat di berbagai daerah memanfaatkan daun bandotan yang ditumbuk halus sebagai obat luar.

Ramuan ini dipercaya mampu membantu menghentikan pendarahan ringan serta mempercepat proses penyembuhan luka kecil karena sifat antiseptiknya.

Selain itu, pemakaian luar juga kerap ditujukan untuk meredakan bengkak, bisul, dan peradangan ringan pada kulit.

Beberapa tradisi lokal bahkan mengenal penggunaan air rebusan daun bandotan untuk membantu mengatasi gangguan pencernaan seperti sakit perut atau diare.

Namun, praktik ini tidak dilakukan secara sembarangan. Pengetahuan turun-temurun biasanya menyertakan batasan jumlah dan frekuensi pemakaian.

Dalam unggahan @Excel_Dee disebutkan bahwa pemanfaatan tersebut tetap membutuhkan kehati-hatian, mengingat tidak semua kandungan alaminya aman untuk dikonsumsi.

Selain sebagai tanaman obat, bandotan juga dimanfaatkan di sektor pertanian tradisional. Aroma khasnya yang menyengat membuat tanaman ini digunakan sebagai pestisida nabati untuk membantu mengusir hama tertentu.

Cara ini dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia, meski efektivitasnya sangat bergantung pada cara pengolahan dan aplikasi di lapangan.

Namun demikian, di balik berbagai manfaat tersebut, bandotan juga menyimpan potensi risiko yang tidak boleh diabaikan.

Tanaman ini diketahui mengandung alkaloid pirolizidin, senyawa kimia yang dapat bersifat toksik terhadap hati.

Paparan senyawa ini dalam jumlah besar atau penggunaan jangka panjang melalui konsumsi oral berisiko menyebabkan gangguan fungsi hati.

Oleh sebab itu, pemanfaatan bandotan untuk konsumsi dalam sebaiknya dilakukan secara sangat terbatas dan di bawah pendampingan ahli herbal atau tenaga medis.

Hal inilah yang membuat edukasi identifikasi tanaman menjadi sangat penting. Kesalahan mengenali tanaman liar bukan hanya berujung pada salah manfaat, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.

“Padahal, salah mengenali tumbuhan bisa berujung pada salah manfaat dan salah risiko,” tulis akun @Excel_Dee.

Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa kedekatan manusia dengan alam harus diiringi dengan pengetahuan yang memadai.

Bandotan dan sawi langit, meskipun sama-sama tumbuh liar, memiliki karakter, kandungan, dan fungsi yang berbeda. Kemiripan visual tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar pengenalan.

Dengan pemahaman yang tepat, tanaman liar dapat menjadi sumber manfaat, bukan sebaliknya. Alam menyediakan banyak potensi, namun tanpa pengetahuan, potensi tersebut justru bisa berubah menjadi mudarat.***
 
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X