Minggu, 19 Juli 2026

Mengenal Intermittent Fasting: Diet Populer di Kalangan Perempuan, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Photo Author
Dini Nurlina, Sketsa Nusantara
- Senin, 7 Juli 2025 | 19:30 WIB
Ilustrasi intermittent fasting, diet favorit banyak perempuan (pexels/Lisa)
Ilustrasi intermittent fasting, diet favorit banyak perempuan (pexels/Lisa)

SketsaNusantara.id - Bagi banyak perempuan menjaga bentuk tubuh bukan hanya soal penampilan, tapi juga bagian dari gaya hidup sehat untuk percaya diri.

Salah satu metode diet yang sedang populer adalah intermittent fasting atau puasa intermiten.

Tren ini tak hanya ramai di media sosial, tapi juga mendapat dukungan dari sejumlah pakar kesehatan.

Baca Juga: Mengapa Gen Z Sulit Belajar Filsafat? Fahruddin Faiz Menyinggung Gaya Hidup yang Semakin Dangkal

Apa Itu Intermittent Fasting?

Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa secara berselang. Dimana seseorang berpuasa dalam jangka waktu tertentu dan hanya makan dalam jendela waktu yang sudah ditentukan.

Contohnya adalah metode 16:8, yaitu puasa selama 16 jam dan makan selama 8 jam dalam sehari.

Menurut jurnal dari NIH PubMed yang dikutip SketsaNusantara.id, intermittent fasting muncul sebagai alternatif diet yang mampu menurunkan berat badan, memperbaiki kadar gula darah, dan mengurangi peradangan dalam tubuh.

Baca Juga: Manfaat Minum Kopi yang Kini Jadi Gaya Hidup Sehat, Cegah Penuaan Dini hingga Memperpanjang Usia

Manfaat Intermittent Fasting bagi Kesehatan

Beberapa penelitian, termasuk dari Healthline dan jurnal NCBI menunjukkan bahwa intermittent fasting memiliki untuk manfaat kesehatan.

Intermittent Fasting dapat membantu penurunan berat badan, menurunkan tekanan darah, meningkatkan sensitivitas insulin, serta menurunkan risiko penyakit jantung.

Tak hanya itu, puasa intermiten juga dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan memperbaiki kontrol gula darah.

Baca Juga: Unihertz Titan 2 Hadirkan Sensasi Nostalgia dengan Desain QWERTY dan Spesifikasi Gahar

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: NIH PubMed

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X