Minggu, 19 Juli 2026

Mengapa Gen Z Sulit Belajar Filsafat? Fahruddin Faiz Menyinggung Gaya Hidup yang Semakin Dangkal

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 7 Juli 2025 | 05:30 WIB
Ilustrasi. Fahruddin Faiz menjawab kenapa Gen Z lemah di Filsafat. (Pexels/cottonbro studio)
Ilustrasi. Fahruddin Faiz menjawab kenapa Gen Z lemah di Filsafat. (Pexels/cottonbro studio)

SketsaNusantara.id - Filsafat dikenal sebagai salah satu disiplin ilmu yang menuntut kedalaman berpikir.

Namun, dalam era digital saat ini, banyak pihak yang menilai generasi muda, terutama Gen Z, semakin sulit untuk memahami dan mendalami filsafat.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Baca Juga: Jangan Berdebat dengan Orang Bodoh! Fahruddin Faiz Mengingatkan Lewat Nasihat Imam Syafi'i, Cocok untuk Survive di Medsos

Fahruddin Faiz menjelaskan pandangannya tentang fenomena tersebut.

Menurutnya, kondisi ini tidak terlepas dari budaya komunikasi yang berkembang dalam masyarakat saat ini, yang cenderung lebih mementingkan permukaan daripada kedalaman.

“Dari sisi kedalaman, memang banyak dikritik bahwa Gen Z hari ini lemah. Itu pemikiran yang agak mendalam. Karena budaya kita hari ini memang arahnya agak ke permukaan, ya. Mungkin bahasa kasarnya agak dangkal,” ujarnya, dikutip SketsaNusantara.id dari video kanal Youtube Helmy Yahya Bicara.

Baca Juga: Suka Nyalahin Orang? Inilah 7 Ciri Manusia dengan Mindset Negatif Menurut Fahruddin Faiz, Salah Satunya Sering Membesar-besarkan Masalah

Budaya komunikasi juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan generasi muda dalam belajar filsafat.

Ia menyebut bahwa banyak orang kini lebih fokus pada tindakan yang tampak daripada makna yang sesungguhnya.

“Hari ini, tindakan komunikasi itu lebih diutamakan daripada makna komunikasi. Tindakannya lebih diutamakan daripada maknanya,” lanjutnya.

Baca Juga: Ingin Hidup Tenang tapi Dunia Terlalu Bising? 4 Kunci dari Fahruddin Faiz ini Bisa Jadi Jalan Sunyi yang Selama Ini Kamu Cari

Fenomena ini bisa dilihat dari kebiasaan banyak orang yang lebih mementingkan tampil, berkomentar, dan memperbarui status, daripada memikirkan makna dari apa yang mereka sampaikan.

Fahruddin Faiz menggambarkan situasi ini dengan sangat lugas.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: YouTube Helmi Yahya Bicara

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X