jelajah

Dakwah Tanpa Menghakimi: Kisah Kyai Nyentrik asal Situbondo dalam Merangkul Preman Kembali ke Jalan Allah

Rabu, 12 Februari 2025 | 12:46 WIB
KHR Moh Kholil As'ad saat melakukan ibadah Umroh. (Saluran WhatsApp/ pecinta KHR MOH CHOLIL AS'AD SAMSUL ARIFIN)

Berbeda dengan sabung ayam biasa yang identik dengan judi dan kekerasan, di pesantren Walisongo, aturannya berbeda—ayam yang kalah tidak disakiti, tetapi pemiliknya diwajibkan sholat sunnah 10 kali salam.

Dengan metode ini, para preman yang awalnya hanya datang untuk adu ayam lama-kelamaan mulai terbiasa sholat, bahkan akhirnya bertaubat dan menjadi santri beliau.

Berkat pendekatan ini, banyak dari mereka yang kembali ke jalan Allah.

Dakwah yang Merangkul, Bukan Menghakimi

Dakwah KHR Moh. Kholil As’ad membuktikan bahwa Islam dapat diajarkan dengan cara yang lembut, merangkul, dan tidak menghakimi.

Dengan pendekatan budaya dan seni, ia mampu menyentuh hati mereka yang selama ini dianggap terpinggirkan. Sebuah warisan dakwah yang terus hidup di tengah masyarakat.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!

Halaman:

Tags

Terkini