Disebutkan bahwa blangkon dipakai sebagai wujud pengendalian diri dari hal-hal negatif seperti luapan emosi dan amarah.
Di masa lalu, diyakini bahwa kepala adalah simbol yang sangat penting dan wajib dilindungi. Apalagi di masa itu kebanyakan pria Jawa berambut panjang dan harus diikat dengan kain.
Para pria Jawa di masa tersebut hanya menggerai rambut saat di rumah atau ketika menghadapi perkelahian.
Oleh karena itu, membuka ikatan kepala atau blangkon dapat dimaknai sebagai luapan emosi atau batas akhir pengendalian diri.
Dengan demikian, memakai blangkon sebetulnya bukan sekadar fesyen atau gaya berpakaian. Justru penutup kepala yang ikonik ini menyimpan makna pengendalian diri atau peringatan untuk bersikap lembut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!