Dengan sistem tersebut maka rakyat diwajibkan menanam kopi dan menyetorkan hasilnya ke VOC melalui para penguasa daerah.
Akibat dari berlakunya sistem ini maka Belanda meraup keuntungan yang sangat besar sehingga VOC kala itu menajid produsen kopi terpenting di dunia hingga pertengahan abad ke 19 hingga awal abad ke-20.
Dengan sistem tanam paksa, VOC mampu mengontrol perdagangan kopi global dan mendominasi pasar Eropa dengan kopi kualitas tinggi dari Jawa.
Pada saat itu kopi merupakan komoditas yang paling tinggi di Eropa sehingga permintaan kopi dari Jawa dengan kualitas tinggi membuat Belanda meraup keuntungan besar.
Untuk itu petani saat itu ditekan untuk menanam kopi dan menyerahkan sebagin besar kepada VOC, disinilah letak kontrol Belanda melalui penguasa lokal yang sangat merugikan rakyat pribumi.
Rakyat yang biasanya menanam padi dan bahan makanan pokok lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga kini harus merelakan sebagian besar lahan serta tenaganya untuk menanam kopi.
Baca Juga: 3 Wisata Religi di Yogyakarta untuk Liburan Natal 2024 dengan Keindahan Budaya dan Penuh Toleransi
Parahnya lagi, mereka diberi target dan jika tak mampu penuhi target dari VOC maka akibatnya bisa fatal karena rakyat akan mendapatkan hukuman atau denda yang besar.
Dampak Tanam Paksa
Sebab berbagai aturan serta tekanan dari VOC tersebut maka tanam paksa menimbulkan berbagai dampak, yakni :
• Eksploitasi Petani
• Krisis Pangan
• Kerja Paksa