Dengan berbagai pilihan warna dan motif, cukin menjadi ciri khas pakaian tradisional Betawi dan memiliki nilai filosofis sebagai penanda kearifan dan kesederhanaan dalam berpenampilan.
Baca Juga: Kata Ridwan Kamil dan Pramono Anung Soal Nomor Urut di Pilkada Jakarta 2024 yang Diundi KPU Hari Ini
Meskipun kain cukin ini berasal dari budaya Betawi, kehadirannya dalam konteks politik sebagai simbol dukungan moral memiliki makna yang universal, terutama dalam menjunjung kejujuran dan ketulusan hati.
Tradisi Simbolik Cukin di Kalangan Tokoh Betawi
Kain cukin putih tak hanya menjadi pelengkap baju sadariah masyarakat Betawi sehari-hari, tetapi juga dipakai oleh para tokoh Betawi dalam berbagai kesempatan sebagai simbol penghormatan, kesederhanaan, dan ketulusan
Di kalangan tokoh Betawi, kain cukin kerap dikenakan untuk menunjukkan identitas Betawi mereka, juga dalam acara-acara budaya yang melibatkan masyarakat luas.
Cukin putih, dengan makna kesederhanaannya, sering terlihat dikenakan dalam acara adat dan silaturahmi, bahkan dalam kegiatan yang berkaitan dengan politik maupun sosial budaya.
Penggunaan kain cukin sebagai simbol dukungan politik oleh Sinta Nuriyah kepada Pramono Anung ini pun mengingatkan pada tradisi simbolik lainnya dalam budaya Betawi, di mana kain dapat menjadi wujud restu atau tanda kepercayaan.
Dalam berbagai peristiwa budaya dan politik, kain yang dikenakan atau dikalungkan oleh tokoh berpengaruh sering kali menjadi wujud penghormatan, restu, atau doa bagi penerimanya.
Dengan menerima kain cukin putih dari Sinta Nuriyah, Pramono seolah mendapat restu yang melampaui kata-kata, menyimbolkan doa dan harapan agar perjalanan politiknya senantiasa dijaga oleh ketulusan dan nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Betawi.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!