jelajah

Mengenal Sosok Ratu Dyah Suhita, Simbol Pemimpin Terakhir Perempuan di Kerajaan Majapahit

Kamis, 24 Oktober 2024 | 21:00 WIB
Ilustrasi Kerajaan Majapahit. (freepik/Ai-generated)

Baca Juga: Inilah Kondisi Candi Wringin Branjang yang Dipercaya Tempat Menyimpan Alat dari Era Majapahit, Tak Miliki Hiasan Relief ? 

Siapa Ratu Dyah Suhita 

Dyah Suhita naik tahta setelah Hayam Wuruk wafat dan Majapahit menjadi kacau akibat dari intrik politik dan perseteruan internal yang semakin memanas terkait suksesi kepemimpinan Kerajaan Majapahit.

Sebagai ratu, Dyah Suhita dikenal karena kepemimpinannya yang tenang dan bijaksana. Ia berusaha untuk menyatukan kembali wilayah Majapahit yang terpecah akibat perang dan perselisihan. 

Meskipun menghadapi banyak kesulitan, Dyah Suhita berhasil mempertahankan kekuasaan dan melanjutkan tradisi kepemimpinan perempuan di Majapahit, yang sebelumnya telah dipimpin oleh ratu sebelumnya.

Baca Juga: Ditemukan Moster Laut di Pasuruan? Misteri Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit, Setiap Sudutnya Punya Filosofi

Seperti dilansir SketsaNusantara.id dikutip dari Jay Chrome dalam bukunya The Hindo Javaans Ctj, seperti yang dikutip dalam buku Girindrawardana "Beberapa masalah Majapahit" akhir pada tahun 1978, ia menjelaskan bahwa Diah Suhita merupakan putri dari Bhre Wirabhumi.

Diah Suhita kemudian menikah dengan Aji Ratna Pangkaja yang merupakan salah satu panglima perang yang berhasil mengalahkan Bhre Wirabumi dalam perang Paregreg.

Dalam pandangan sejarawan Slamet Muljana sejak awal tahta, Majapahit sudah seharusnya diwariskan kepada Diah Suhita karena ia merupakan anak Wikrama Wardhana dari Kusuma Wardani.

Baca Juga: Siapa Arya Bebed? Pemuda Bali yang Miliki Hubungan Erat dengan Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit

Untuk itu pada tahun 1429 dengan gelar Ratu Kencana Wungu, Dyah Suhita naik tahta dan bersama suaminya Aji Ratna Panjaka memajukan tradisi Nusantara yang sempat terabaikan.

Ia membangkitkan nilai-nilai lokal termasuk pendirian tempat-tempat pemujaan di lereng-lereng gunung seperti di Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu.

Pada tahun 4710 Ratu Diah Suhita meninggal dunia dan setelah kematiannya, tidak ada lagi ratu yang memimpin Majapahit, menandai akhir dari era kepemimpinan perempuan di kerajaan tersebut.

Sebab tak memiliki keturunan maka tahta Kerajaan Majapahit kemudian diteruskan oleh adik bungsu Ratu Diah Suhita yakni Kerta Wijaya yang dikenal dengan nama Brawijaya.

Baca Juga: Ada Kota Hilang di Mojokerto? Misteri Peninggalan Kerajaan Majapahit, Legenda Hunian Para Bangsawan Kuno

Halaman:

Tags

Terkini