Siapa Ratu Dyah Suhita
Dyah Suhita naik tahta setelah Hayam Wuruk wafat dan Majapahit menjadi kacau akibat dari intrik politik dan perseteruan internal yang semakin memanas terkait suksesi kepemimpinan Kerajaan Majapahit.
Sebagai ratu, Dyah Suhita dikenal karena kepemimpinannya yang tenang dan bijaksana. Ia berusaha untuk menyatukan kembali wilayah Majapahit yang terpecah akibat perang dan perselisihan.
Meskipun menghadapi banyak kesulitan, Dyah Suhita berhasil mempertahankan kekuasaan dan melanjutkan tradisi kepemimpinan perempuan di Majapahit, yang sebelumnya telah dipimpin oleh ratu sebelumnya.
Seperti dilansir SketsaNusantara.id dikutip dari Jay Chrome dalam bukunya The Hindo Javaans Ctj, seperti yang dikutip dalam buku Girindrawardana "Beberapa masalah Majapahit" akhir pada tahun 1978, ia menjelaskan bahwa Diah Suhita merupakan putri dari Bhre Wirabhumi.
Diah Suhita kemudian menikah dengan Aji Ratna Pangkaja yang merupakan salah satu panglima perang yang berhasil mengalahkan Bhre Wirabumi dalam perang Paregreg.
Dalam pandangan sejarawan Slamet Muljana sejak awal tahta, Majapahit sudah seharusnya diwariskan kepada Diah Suhita karena ia merupakan anak Wikrama Wardhana dari Kusuma Wardani.
Untuk itu pada tahun 1429 dengan gelar Ratu Kencana Wungu, Dyah Suhita naik tahta dan bersama suaminya Aji Ratna Panjaka memajukan tradisi Nusantara yang sempat terabaikan.
Ia membangkitkan nilai-nilai lokal termasuk pendirian tempat-tempat pemujaan di lereng-lereng gunung seperti di Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu.
Pada tahun 4710 Ratu Diah Suhita meninggal dunia dan setelah kematiannya, tidak ada lagi ratu yang memimpin Majapahit, menandai akhir dari era kepemimpinan perempuan di kerajaan tersebut.
Sebab tak memiliki keturunan maka tahta Kerajaan Majapahit kemudian diteruskan oleh adik bungsu Ratu Diah Suhita yakni Kerta Wijaya yang dikenal dengan nama Brawijaya.