SketsaNusantara.id- Paduraksa atau pelindung merupakan bangunan dengan bentuk mirip gapura dan mempunyai atap penutup yang biasanya dapat ditemukan pada arsitektur kuno di Jawa dan Bali.
Fungsi paduraksa ini digunakan sebagai pembatas dan gerbang akses penghubung antarkawasan dalam suatu area bangunan khusus.
Bangunan paduraksa juga bisa dijumpai di bagian gerbang masuk bangunan klasik, terutama di Jawa dan Bali, diantaranya area keraton, makam keramat, serta pura dan puri yang dikutip SketsaNusantara.id dari website p2k.stekom.ac.id.
Walaupun begitu, ada juga rumah di masa sekarang yang dapat dikatakan sudah modern masih memakai gapura semacam ini.
Pada dasarnya paduraksa memang sebuah pintu gerbang, namun secara disiplin gaya bangunannya mengikuti gaya pada candi.
Paduraksa terdiri dari tiga bagian yaitu kaki atau landasan tempat tangga, tubuh bangunan tempat gawang pintu, serta atap bersusun dengan tambahan kemuncak atau mastaka.
Selain itu, bangunan ini juga dilengkapi lawang (lubang gawang pintu) yang terbuat dari kayu berukir dan daun pintu.
Bangunan paduraksa terkadang disebut dengan nama "kori agung" dimana hal itu adalah adaptasi dari gopuram (gapura) dalam arsitektur masa Hindu dan Buddha di Nusantara.
Beberapa paduraksa yang dapat dijumpai di sejumlah kompleks percandian di Jawa Tengah, khususnya pada abad ke-8 dan ke-9 di antaranya Candi Prambanan, Plaosan, dan gapura kompleks Ratu Boko.
Selanjutnya memasuki era kekuasaan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, bentuk atap gapura paduraksa semakin tinggi menjulang dengan perawakan yang lebih langsing, misalnya pada Candi Bajangratu.