SketsaNusantara.id - Baru-baru ini Situs Batu Melingkar di Jahiang, Tasikmalaya, telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, terutama setelah munculnya klaim mengenai frekuensi misterius yang dipancarkan oleh batu tersebut.
Batu melingkar ini dikenal dengan sebutan "circle stone" terletak di kompleks makam keramat Tuan Alam Jahiang Tasikmalaya.
Penemuan ini menarik perhatian banyak orang karena dikatakan dapat memperkuat sinyal Handy Talky (HT) dan bahkan memancarkan sinyal internet tanpa kuota.
Baca Juga: Kerajaan Kristen Ada di Wilayah Timur Nusantara, Bagaimana Ajarannya Bisa Sampai ke Pulau Jawa?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Telkom Tasikmalaya, batu melingkar ini mampu meningkatkan kualitas sinyal ponsel dan HT meski BTS daerah Jawa Barat sesaat dimatikan untuk keperluan penelitian.
Seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube Angelic Vaulina fenomena yang ditunjukkan circle stone ini mengundang perdebatan sehingga masih terus diteliti kebenarannya.
Meski demikian jejak Situs Batu Melingkar ini juga dianggap sebagai jejak sejarah yang penting, mengingat keberadaannya yang berkaitan dengan peradaban masa lalu, khususnya Kerajaan Galuh Purba.
Baca Juga: 4 Kerajaan Kristen yang Pernah Ada di Nusantara: Muncul Karena Pengaruh Kedatangan Portugis?
Kerajaan Galuh Purba merupakan leluhur masyarakat Sunda yang diperkirakan berada di periode masuknya budaya Hindu dan Budha dari India.
Jika pada zaman kerajaan nusantara pada umumnya menciptakan candi sebagai tempat pemujaan Dewa, namun rupanya Kerajaan Galuh Purba tak memerlukan candi untuk melakukan hal itu namun membuat bangunan kuno daribatu sederhana uang mengedepankan konsep bukan rupa.
Batu Melingkar atau Batu Muntir dan dalan dunia akademis disebut sebagai Circle Stone berada di area makam Tuan Alam yang dikeramatkan di Desa Jahiang Tasikmalaya.
Masyarakat Jahiang sejak dulu sudah menganggap keramat hutan lokasi batu melingkar ini sehingga tak sembarangan orang bisa masuk begitu saja karena terdapat kubura yang dikeramatkan serta circle stone disekitarnya.
Rupanya setelah diteliti lebih jauh oleh Tim Ekspedisi Lintas Budaya Nusantara dan Gasantana ada 36 circle stone yang diperkirakan sudah ada sejak 4000-5000 SM.