SketsaNusantara.id- Agama Kristen telah mengakar di Nusantara sejak era kerajaan, dengan sejumlah kerajaan bercorak Kristen seperti Kerajaan Larantuka, Manado, Sikka, dan Siau yang banyak terletak di bagian timur Indonesia.
Namun, bagaimana ajaran ini dapat merambah hingga ke Pulau Jawa?
Pada tahun 1896, dua misionaris Belanda, Romo Hoovenaar dan Romo Van Lith, tiba di Semarang, Jawa Tengah, untuk menyebarkan ajaran Katolik.
Baca Juga: 4 Kerajaan Kristen yang Pernah Ada di Nusantara: Muncul Karena Pengaruh Kedatangan Portugis?
Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, pendekatan mereka sangat berbeda.
Romo Hoovenaar memfokuskan diri pada jumlah baptisan, sementara Romo Van Lith percaya bahwa menerapkan nilai-nilai Katolik dalam kehidupan sehari-hari lebih penting daripada sekadar memeluk agama.
Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa melalui pendidikan.
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun TikTok @mas_ijals, Romo Van Lith mendirikan banyak sekolah di daerah Muntilan dan mempelajari budaya lokal, berupaya untuk memisahkan misi Katolik dari kepentingan politik kolonial.
Namun, karena kurangnya baptisan yang dihasilkan, ia dihadapkan pada ancaman penutupan sekolah.
Keberuntungan berpihak padanya ketika seorang petapa bernama Sarikromo, yang menderita kudis, datang ke kediamannya dan dirawat hingga sembuh.
Terpesona oleh sosok Romo Van Lith, Sarikromo kemudian belajar tentang ajaran Katolik.
Setelah pulang ke Semanggung dengan membawa Kitab Suci Perjanjian Baru berbahasa Jawa, Sarikromo mulai menceritakan pengalamannya kepada penduduk setempat, menarik banyak perhatian.