Namun, mimpinya harus dikubur dalam oleh Mas Tirtodarmo Haryono setelah Jepang hengkang dari Indonesia seusai ditaklukkan oleh sekutu.
Pasca Kemerdekaan RI, Mas Tirtodarmo Haryono masuk dalam kelompok pemuda mempertahankan kemerdekaan NKRI.
Baca Juga: Meski Sudah Menjadi Jenderal, Soeharto Tidak Masuk Daftar Sasaran saat Peristiwa G30S PKI?
Letjen MT Haryono bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan memperoleh pangkat Mayor.
Selama masuk ke dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Letjen MT Haryono kerap dipindahtugaskan.
Mulai dari menjadi Sekretaris Delegasi Publik Indonesia dalam perundingan Indonesia-Belanda hingga menjabat sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia ketika Moh. Hatta bertugas sebagai ketua Delegasi Republik Indonesia dalam Konferensi Meja Bunda (KMB).
Berkat segala usahanya, karir di dunia militer terus mengalami kenaikan terutama dalam jajaran Staf Angkatan Darat.
Letjen MT Haryono diangkat sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Belanda pada tahun 1950.
Tak berhenti disitu, diangkat juga sebagai Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat dengan pangkat Major Jenderal pada tahun 1964.
Jejak diburunya Letjen MT Haryono oleh pasukan pemberontak PKI diketahui ketika Pasukan Cakrabirawa mendatangi kediaman Hayono pada 1 Oktober 2024.
Lagi-lagi, pasukan bersenjata lengkap kala itu mengucapkan pesan bawasannya Letjen MT Haryono diperintah untuk datang menghadap ke Presiden Soekarno.
Haryono diceritakan sempat ragu dan curiga kepada pasukan Cakrabirawa yang mendatangkan rumahnya.
Merasa memiliki perasaan buruk, Haryono menyuruh istri dan anaknya untuk bersembunyi dan mematikan lampu.
Namun, Pasukan Cakrabirawa tak kalah cermat, mereka memaksa untuk masuk kamar tidur yang dikunci rapat.
Letjen MT Haryono sempat melakukan perlawanan namun gagal dan kemudian dirinya ditembak mati oleh pasukan pemberontak G30S PKI.