“Keputren adalah tempat tinggal putri raja dan para selirnya. Temuan artefak ini semakin mengukuhkan nilai sejarah dan fungsi sosial kawasan ini dalam konteks Kerajaan Mataram Islam,” tambah Hery.
Situs di Lahan Pribadi, Pelestarian Mendesak
Menariknya, ekskavasi ini dilakukan di lahan pribadi milik warga setempat, seorang perempuan bernama Parjinem. Meski demikian, situs tersebut belum dibebaskan oleh Disbud DIY, sehingga setelah ekskavasi selesai, situs dan artefak yang ditemukan harus ditutup kembali demi pelestarian.
Baca Juga: Tidak Hanya Dongeng Belaka! Inilah Bukti Kerajaan Majapahit Pernah Menguasai Pulau Sumatera
Supriyanto, kerabat pemilik lahan sekaligus Koordinator Pengelola KCB Kerto-Pleret, mengungkapkan bahwa lahan tersebut sebelumnya adalah hutan bambu dan pemakaman sinden.
Warga sekitar sering mengambil batu bata dan andesit dari lokasi tersebut untuk keperluan pribadi. Supriyanto berharap lahan ini dapat segera dibebaskan oleh pemerintah agar situs Keputren dapat dijadikan klaster baru di KCB Kerto-Pleret.
“Ini pertama kali ekskavasi dilakukan di lahan yang belum dibebaskan. Kami berharap pemerintah dapat mengambil tindakan lebih lanjut untuk menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah ini,” ungkap Supriyanto.
Upaya Pelestarian dan Tantangan Ke Depan
Ekskavasi Situs Keputren adalah bagian dari rangkaian penelitian Dinas Kebudayaan DIY yang juga mencakup Situs Kedaton dan Situs Kerto.
Semua temuan arkeologi dari ekskavasi ini, termasuk fragmen gerabah Majapahit, telah didata dan diserahkan kepada Dinas Kebudayaan DIY untuk proses pelestarian lebih lanjut. Artefak tersebut rencananya akan disimpan di Museum Pleret, yang juga menjadi bagian dari upaya pengamanan sejarah kawasan ini.
Namun, pelestarian situs bersejarah ini tidak lepas dari tantangan. Selain belum adanya pembebasan lahan, ancaman hilangnya artefak dan struktur berharga akibat aktivitas warga menjadi perhatian utama.
Seperti yang diungkapkan Hery, beberapa warga telah mengambil batu bata merah dan batu andesit dari lokasi situs untuk keperluan pribadi sejak tahun 1980-an.
Peneliti juga merekomendasikan pemasangan papan informasi di lokasi situs, mengingat pentingnya keberadaan Situs Keputren sebagai bagian dari sejarah Kerajaan Mataram Islam dan Majapahit. Ini dilakukan agar masyarakat sekitar maupun pengunjung dapat lebih menghargai dan memahami nilai historis tempat tersebut.