Namun, tidak semua sejarawan sepakat bahwa Tanjungpuri merupakan bagian dari Nan Sarunai.
Ada teori yang menyebutkan bahwa Tanjungpuri didirikan oleh orang Melayu yang melarikan diri dari Sriwijaya pada abad ke-11.
Terlepas dari perbedaan pendapat, kemungkinan besar masyarakat Melayu ini hidup berdampingan dengan suku Dayak Maanyan yang sudah lebih dahulu mendirikan Nan Sarunai.
Alfani Daud dalam bukunya "Islam dan Masyarakat Banjar" menyebut bahwa masyarakat Kalimantan Selatan pada mulanya adalah keturunan dari orang Palembang, Sumatra, yang kemudian berbaur dengan suku Dayak setempat.
Kerajaan Nan Sarunai diyakini berawal dari gabungan beberapa komunitas adat Dayak Maanyan yang membentuk pemerintahan sederhana.
Meski terkesan primitif, kerajaan ini mampu bertahan selama ribuan tahun hingga mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan Raden Japutra Layar pada awal abad ke-12.
Pada 1358, pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Empu Jatmika menyerang Nan Sarunai atas perintah Raja Hayam Wuruk.
Baca Juga: Sosok Maulana Yusuf: Menjadi Raja di Usia Tua dan Berhasil Kalahkan Kerajaan Besar Pajajaran
Tragedi ini dikenal dalam tradisi lisan suku Dayak Maanyan sebagai "Usak Jawa" atau "Penyerangan oleh Jawa".
Setelah kerajaan tersebut hancur, Majapahit mendirikan Negara Dipa di atas reruntuhannya, yang kemudian menjadi Kesultanan Banjar pada 1520 setelah masuknya pengaruh Islam.
Meski Kerajaan Nan Sarunai telah lama lenyap dari peta sejarah, jejak-jejaknya tetap hidup dalam tradisi, budaya, dan peninggalan arkeologis di Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Dibangun Pada Abad ke-9, Inilah Candi Gunung Sari Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno di Magelang
Kerajaan ini bukan hanya menjadi bukti kejayaan peradaban kuno, tetapi juga fondasi awal pembentukan identitas masyarakat Banjar dan peradaban Dayak Maanyan yang bertahan hingga kini.***