Sejak abad ke-6, hubungan ini terjalin erat dan bertahan hingga abad ke-14, ketika Kerajaan Galuh mulai mengalami kemunduran akibat masuknya pengaruh Islam ke wilayah Sunda.
Situs bersejarah Astana Gede di Kawali, Kabupaten Ciamis, yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Galuh, menjadi saksi bisu dari kejayaan masa lalu.
Hingga saat ini, tidak jarang masyarakat Bali datang berziarah ke situs tersebut.
Bagi mereka, ziarah ini bukan sekadar perjalanan spiritual, melainkan juga dianggap sebagai "pulang kampung" ke tanah leluhur mereka.
Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan sejarah antara Bali dan Sunda, meskipun saat ini mayoritas penduduk di Tatar Sunda tidak lagi menganut agama Hindu.
Ketika kita menelusuri kembali sejarah penyebaran agama Hindu di Nusantara, tidak dapat dipungkiri bahwa Bali dan Sunda memiliki hubungan yang sangat erat.
Meskipun saat ini masyarakat Sunda lebih banyak menganut agama Islam, hubungan historis ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan panjang agama Hindu di Indonesia.
Fakta ini bukan hanya memperkaya sejarah Bali, tetapi juga memperkuat narasi kebudayaan dan spiritualitas yang melintasi batas geografis.
Bali dan Sunda, meskipun terpisah oleh waktu dan jarak, memiliki ikatan sejarah yang mendalam, yang hingga kini masih dihormati dan dijaga oleh masyarakat kedua wilayah tersebut.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!