Keputusan diambil agar kedua raja turun tahta dan menyerahkan kekuasaan kepada putra mahkota mereka.
Jayadewata, putra Dewa Niskala, akhirnya menyatukan kedua kerajaan dan diangkat sebagai Sri Baduga Maharaja, memulai pemerintahannya di Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482.
Baca Juga: Mengenal Kerajaan Banggai Sebuah Kerajaan Islam di Sulawesi Tengah yang Dibentuk Pada Abad ke-16
Di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja, Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kejayaannya.
Ia membangun Talaga Maharenawijaya, memperkuat pertahanan ibu kota, dan mengatur sistem pemerintahan serta hukum.
Prasasti-prasasti seperti Kabantenan dan Batutulis menceritakan berbagai pencapaian Sri Baduga, termasuk pembangunan infrastruktur dan pengaturan upeti.
Namun, kejayaan Pajajaran tidak bertahan lama. Pada tahun 1579, Kerajaan Pajajaran runtuh akibat serangan Kesultanan Banten, yang dipimpin oleh Maulana Yusuf.
Pajajaran harus menyerah dan Palangka Sriman Sriwacana, raja terakhir Pajajaran, dipindahkan ke Banten.
Dengan runtuhnya Pajajaran, Kesultanan Banten mengambil alih kekuasaan di wilayah Sunda.
Seiring dengan runtuhnya Pajajaran, ajaran Islam mulai menyebar di wilayah Sunda, menyebabkan ketegangan di kalangan penguasa Pajajaran.
Untuk melawan kekuatan Kesultanan Demak dan Cirebon, Pajajaran menjalin aliansi dengan Portugis, memberikan akses perdagangan bebas di pelabuhan kerajaan dengan imbalan bantuan militer.
Meskipun Kerajaan Pajajaran telah lama berlalu, warisannya tetap hidup melalui peninggalan seperti prasasti Cikapundung, Huludayeuh, Pasir Datar, dan Batutulis.
Peninggalan-peninggalan ini memberikan gambaran mendalam tentang kebudayaan, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat Pajajaran.
Jejak-jejak sejarah ini masih bisa ditemukan di berbagai situs dan prasasti yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, menandai kejayaan dan kejatuhan salah satu kerajaan besar Sunda.***