Dilansir dari kanal YouTube Ferry Irwandi, sejak reruntuhannya pertama kali ditemukan oleh pelaut Inggris, S.C. Crooke, pada abad ke-19, situs ini mulai menarik perhatian dunia.
Meski demikian, upaya pemugaran baru dimulai pada tahun 1976, dan hingga kini, dari 114 candi yang ditemukan, baru 10 yang berhasil dipugar.
Namun, setiap batu bata yang tersusun tanpa semen di sini bagaikan potongan teka-teki yang terus memancing rasa penasaran para peneliti dan sejarawan.
Teori yang berkembang semakin menarik, bisa jadi ibu kota Sriwijaya sebenarnya berada di sini, di Muarojambi, bukan di Palembang seperti yang selama ini diyakini.
Posisi Jambi yang strategis, terletak di persimpangan jalur pelayaran antara Laut Cina Selatan dan Selat Malaka, semakin memperkuat dugaan tersebut.
Baca Juga: Mengulik Candi Klero yang Konon Merupakan Peninggalan dari Kerajaan Singasari di Semarang
Namun, misteri terbesar dari Muarojambi justru terletak pada ketiadaan catatan sejarah yang jelas.
Tidak ada yang tahu pasti siapa yang membangun candi-candi ini atau apa tujuannya.
Pecahan keramik Dinasti Ming dan manik-manik Persia yang ditemukan di sini seolah memberikan petunjuk samar.
Memperlihatkan bahwa tempat ini mungkin pernah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan internasional yang ramai.
Kini, kompleks Muarojambi tak hanya menjadi saksi bisu peradaban besar yang terlupakan, tapi juga membawa harapan baru bagi masyarakat sekitar.
Wisatawan mulai berdatangan, dan dengan itu, perekonomian lokal ikut terangkat.
Bentor-bentor yang dulunya tak banyak digunakan kini sibuk mengantar para pelancong yang ingin menyusuri jejak sejarah.
Namun, di balik kemegahan dan keindahannya, Muarojambi masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan.