SketsaNusantara.id - Nama Djemilah Birnie sering kali terdengar di antara cerita-cerita tentang asal-usul kota Jember.
Meskipun banyak yang menyebutnya sebagai salah satu sosok kunci di balik penamaan kota ini, kisah Djemilah dan keluarga Birnie masih dipenuhi dengan berbagai versi yang menarik untuk digali lebih dalam.
Djemilah Birnie, wanita kelahiran 30 Juni 1845, menjadi tokoh yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah perkembangan kota Jember.
Maesan sendiri adalah sebuah kecamatan di Bondowoso, dekat perbatasan dengan Jember.
Pada masa hidupnya, daerah ini menjadi pusat kegiatan perkebunan yang mengundang banyak orang Belanda untuk tinggal dan menetap.
Tidak mengherankan jika banyak perempuan dari daerah perbatasan ini yang kemudian dijadikan "Nyai" oleh pria-pria Belanda, termasuk Djemilah.
Baca Juga: Makam Djemilah Birnie, Pribumi yang Dinikahi oleh Saudagar Kaya Belanda, Jadi Asal-usul Nama Jember?
Dilansir SketsaNusantara.id dari TikTok @rzhakim, ada banyak kekeliruan yang mengaburkan kisah Djemilah. Salah satunya adalah anggapan bahwa ia adalah istri George Birnie, seorang perintis perkebunan besar di Jember.
Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa Djemilah sebenarnya diperistri oleh David Birnie, bukan George. Istri George Birnie sendiri bernama Rabina, seorang perempuan pribumi dari Desa Penanggungan, Maesan, Bondowoso.
George Birnie, yang kemudian kembali ke Belanda pada tahun 1873, memantau perkembangan NV. LMOD dari kejauhan, sementara David Birnie, saudaranya, melanjutkan usaha keluarga di Jember dan sekitarnya.
David Birnie memiliki peran besar dalam perkembangan wilayah Jember dan kota-kota sekitarnya.
Meski berkantor di pusat kota Jember, David dan Djemilah memiliki beberapa kediaman, salah satunya di Maesan.