SketsaNusantara.id - Kota Malang dikenal sebagai destinasi wisata favorit dengan berbagai daya tarik alam dan budayanya.
Namun, di balik pesonanya yang memikat, terdapat kampung-kampung yang menyimpan kisah heroik dan menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Salah satu kampung yang penuh dengan sejarah adalah Tawangsari Kampoeng Sedjarah, sebuah tempat yang pernah menjadi markas penting bagi para pejuang kemerdekaan di masa penjajahan Belanda.
Terletak di Jalan Sumbersari Gang 4 Nomor 62, Kelurahan Sumbersari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Tawangsari Kampoeng Sedjarah berada di antara kampus-kampus ternama seperti Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, dan UIN Maulana Malik Ibrahim.
Lokasinya yang strategis ini tidak hanya menguntungkan secara geografis, tetapi juga menjadi salah satu alasan kampung ini dipilih sebagai markas oleh para pejuang Indonesia.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Agent FortySeven, pada masa Agresi Militer Belanda, Tawangsari menjadi pusat komando gerilya kota yang dipimpin oleh Kapten Soemitro.
Di depan balai RW kampung ini, terdapat sebuah jembatan yang kini menyimpan cerita tak terungkap dari masa lalu.
Jembatan tersebut dahulu digunakan sebagai titik pengawasan untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. Dari sinilah, strategi-strategi jitu dirancang demi merebut kembali Kota Malang dari tangan penjajah.
Jembatan ini tidak hanya menjadi saksi diam atas pergerakan militer, tetapi juga sebagai titik kumpul para pejuang yang siap mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan.
Baca Juga: 7 Kyai Pejuang Kemerdekaan Indonesia: Bahkan Ada Juga yang Sampai Terjun ke Medan Peperangan?
Keberanian dan kecerdasan para pahlawan yang berjuang dari Tawangsari ini telah memberikan kontribusi signifikan dalam melawan kekuatan kolonial.
Meski kini zaman telah berubah dan teknologi telah berkembang pesat, namun saat Anda melangkah ke dalam kampung Tawangsari, nuansa masa lalu masih terasa kuat.