Menurutnya, Bali merupakan salah satu tempat yang sangat terbuka untuk pelaku seni dalam menunjukan kreativitasnya, asalkan tidak mengganggu orang lain.
Di Bali, Pandi memperdalam kemampuannya di bidang drawing. Ia belajar pada sebuah sanggar untuk mengenal drawing secara akademis.
Puluhan tahun Pandi tinggal di Bali bersama keluarga kecilnya. Di sana, ia terus mengembangkan kemampuannya.
Hari-harinya ia habiskan untuk menggoreskan coretan di kanvas ataupun kertas.
Pernah suatu ketika saat ia masih di Bali, dua lukisan miliknya ditawar dengan ditukar sebuah mobil.
Setelah puluhan tahun hidup di Bali, Pandi memilih kembali ke kota kelahirannya, Jember. Alasan Pandi kembali ke Jember karena ia ingin ketenangan di usianya yang tak muda lagi.
Saat di Bali, Pandi akan memulai aktivitasnya di jam 10 pagi dan kembali paling sore di jam 1 dini hari.
Ketika ia kembali ke Jember pada 2021 kemarin, kehidupannya berubah. Namun keseharian Pandi masih sama, dengan pensil, buku gambar, kuas, dan kanvas.
Di Rambipuji, Pandi mendirikan sanggar lukis Rambart. Kediamannya di Pecoro dipenuhi hasil karya dari tangan ajaibnya.
Kini Pandi tergabung dalam Tim Pendataan Cagar Budaya Kabupaten Jember. Tugasnya tak jauh dari hobinya, yaitu menggambarkan heritage hingga batuan arkeologi yang ditemukan di Jember.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!