Tali yang terikat di perutnya menjadi simbol kepedihan yang mengikatnya selama ini serta kebiasaan orang zaman dulu yang selalu mengikat perutnya ketika lapar karena lebih mementingkan anak-anaknya.
Sementara bendera Merah Putih yang dipegangnya adalah tanda NKRI.
Saat menggambar lukisan ini, ingatan Pandi kembali mundur ke puluhan tahun silam. Seorang wanita tua yang berjuang bertahan hidup di negeri ini.
Di usianya yang tak muda lagi, ia berjalan berkilo-kilo meter dengan beban di punggungnya demi memperoleh penghasilan untuk mendapat sesuap nasi bagi keluarganya.
Sejak ia remaja hingga lanjut usia, wanita yang tak lagi muda ini terus berjuang demi mengubah nasibnya menjadi lebih baik.
Kehidupan terus maju, negara serta kecanggihannya semakin berkembang, pejabat di negeri ini silih berganti, namun tidak dengan nasib sang wanita tersebut.
Keadaannya tak banyak yang berubah. Pandi merasakan kesedihan yang sangat mendalam pada kehidupan perempuan tersebut yang tak pernah dihampiri nasib baik.
Sementara di sisi lain, para penguasa tak menjalankan amanatnya dengan semestinya. Kekayaan negara yang seharusnya bisa membantu warganya justru dilahap sendiri oleh mereka yang rakus.
Hijrahnya Pandi ke Pulau Dewata
Pria kelahiran Pecoro tahun 1970 ini sempat hijrah ke Legian, Bali pada tahun 1995.
Keputusannya untuk merantau ke Pulau Dewata ini tak lain karena ingin mendalami ilmunya di bidang seni menggambar.
Jika mayoritas orang akan melihat Bali sebagai tempat berlibur dengan suguhan pantai di sepanjang pulaunya, Pandi memiliki pandangan lain tentang Bali.
Baca Juga: Keunikan Masjid Jami Al Baitul Amien Jember, Punya Ciri Khas Bangunan Unik Penuh Makna Filosofis