Pembangunan terowongan ini membutuhkan 20 ribu romusha untuk membuat saluran terbuka. Para romusha ini kemudian meratakan bukit yang berupa bebatuan kapur.
Kendala yang dilalui saat pembangunan terowongan adalah minimnya bahan peledak dan tidak adanya bulldoser, juga banyaknya hewan buas sehingga seluruh pekerjaan dilakukan manual dengan tenaga manusia juga peralatan sederhana dari desa.
Pembuatan terowongan ini juga sempat terbantu oleh adanya temuan 23 bom yang ditanam oleh para tentara Belanda di sekitar rawa-rawa.
Kisah kelam lainnya adalah para pekerja romusha tidak diberikan makanan dan minuman juga upah yang memadai.
Selain itu, banyaknya serangan nyamuk malaria yang mematikan, banyak juga para pekerja paksa yang meninggal dunia karena kelelahan dan kelaparan.
Akhirnya melalui berbagai kisah pilu dan banyaknya korban jiwa dari para pekerja paksa tersebut, terowongan di Tulungagung ini selesai dibangun pada tahun 1944 dan diberi nama Terowongan Neyama.
Karena dirasa terowongan Neyama belum maksimal dalam menguras banjir di Tulungagung, di masa orde baru kemudian dibangun Neyama dua yang diresmikan pada tahun 1986.
Sampai saat ini terowongan megah ini masih bekerja dengan sangat baik untuk mengatasi banjir di Sungai Brantas yang sering terjadi di wilayah Tulungagung.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI