SketsaNusantara.id - Tulungagung punya banyak tempat bersejarah yang megah dan indah, salah satunya Terowongan Neyama Tulungagung.
Terowongan ini dibuat karena iming-iming upah yang banyak dari para tentara Jepang, namun selama proses pembuatan upah yang dinanti tidak kunjung diberikan.
Berikut kisah 20 ribu pekerja romusha dalam proses pembuatan Terowongan Neyama di Tulungagung.
Baca Juga: 4 Fakta Ardio Taulany: Ikuti Jejak Sang Ayah, Andre Taulany yang Tampil Keren di Industri Hiburan
Dilansir oleh SketsaNusantara.id yang dikutip dari TikTok jadimaukemana, inilah kisah pilu cikal bakal pembuatan Terowongan Neyama di Tulungagung yang berdiri megah.
Terowongan di Tulungagung ini dulunya dibangun untuk mengalirkan banjir dari Sungai Brantas ke Samudra Hindia yang dibangun oleh ribuan pekerja paksa atau romusha.
Terowongan legendaris ini punya sisi kisah pilu Pemerintah Jepang terhadap rakyat Nusantara, yang mana bermula saat Jepang belum lama menjajah Indonesia bertepatan pada 17 November 1942.
Baca Juga: Mengenal Klanting Sebagai Hidangan Legendaris Khas Jawa Timur, Ternyata Rasa Aslinya Tak Manis?
Pada saat itu terjadilah luapan dari Sungai Brantas yang merendam 150 desa dan 9.000 rumah di Kabupaten Tulungagung.
Luapan air itu membuat banyak kerusakan dari pertanian hingga pemukiman penduduk dan membuat tanah berawa yang luas, yang kemudian dikenal dengan sebutan Campurdarat.
Untuk mengatasi peristiwa tersebut, Pemerintah Karesidenan Kediri berencana membuat terowongan melewati perbukitan dengan tujuan menguras air yang menggenang di rawa-rawa dan membuang ke Samudra Hindia.
Pembangunan terowongan ini diharapkan juga bisa menjaga kesuburan lahan padi yang pada saat itu sedang diusahakan secara optimal oleh Jepang untuk menyuplai makanan tentara perang.
Penggagas terowongan ini adalah Residen Enji Kihara lulusan Akademi Militer Jepang. Pada tahun 1943 terowongan ini mulai dibangun.