jelajah

Mengenal Klanting Sebagai Hidangan Legendaris Khas Jawa Timur, Ternyata Rasa Aslinya Tak Manis?

Kamis, 8 Agustus 2024 | 08:00 WIB
Klanting, khas Surabaya dan Pacitan Jawa Timur. (Instagram.com/@didi_prass2710.)

SketsaNusantara.id - Klanting merupakan salah satu kuliner tradisional khas daerah Surabaya dan Pacitan, Jawa Timur.

Klanting disebut sebagai makanan yang legendaris di masyarakat, karena sudah ada dari tahun 1814 dan memang hanya ada di kawasan Jawa Timur saja.

Bahan utama untuk membuat klanting ini adalah tepung kanji, sehinggga teksturnya kenyal dan akan dibentuk bulat-bulat kecil atau lonjong.

Baca Juga: Andre Taulany Gugat Cerai Sang Istri Rien Wartia Trigina, The Prediksi Akhirnya Makin Banyak Duda: Siapa Saja?

Setelah itu, biasanya klanting akan diberi pewarna makanan seperti warna merah, kuning, dan hijau agar tampak menarik.

Makanan tradisional ini rasanya hambar, jadi pasti akan disajikan bersama parutan kelapa dan gula merah supaya rasanya jadi manis yang dinukil SketsaNusantara.id dari kanal Youtube @SMANDINesia.

Klanting bisa dijumpai di berbagai pasar tradisional Pacitan Jawa Timur, terutama pada saat pagi hari saja.

Baca Juga: Kyai Ma'ruf Amin Siap Jadi Penengah Konflik PBNU dan PKB tetapi Tidak Bersedia 1 Hal: Kalau Hanya untuk...

Hal tersebut karena orang-orang suka makan klanting sebagai menu sarapan yang sederhana, namun rasanya enak serta nyaman karena porsinya tidak berlebihan untuk makan lagi.

Keberadaan klanting sebagai makanan tradisional khas Pacitan, Jawa Timur ini dinilai sudah mulai langka dan cukup susah ditemukan keberadaannya.

Tidak dipungkiri bahwa seiring perkembangan zaman, kuliner tradisional akan terus bersaing dengan berbagai makanan modern yang masuk.

Baca Juga: Memilukan dan Menyedihkan, Berikut Kisah Peristiwa Lengkong yang Membuat Pangeran Diponegoro Alami Duka Mendalam

Apalagi anak-anak muda di masa sekarang cenderung tidak menyukai jenis makanan tersebut atau mungkin tidak tahu, sehingga mereka beralih makan makanan modern, seperti dari Eropa atau Korea.

Meski begitu, tetap ada saja orang atau anak-anak muda yang menyukai kuliner ini, karena memang rasanya yang otentik khas Jawa Timur dan lebih sehat karena tidak memakai pengawet.***

Tags

Terkini