Mereka dibagi ke dalam kelompok, laki-laki ditempatkan di perahu terpisah dari anak-anak dan perempuan.
Meski rencana awalnya adalah memindahkan mereka ke Tarakan dan Balikpapan, 30 orang dieksekusi dan mayatnya dibuang ke laut.
Tuduhan pemberontakan terhadap Kesultanan Bulungan hingga kini masih misterius.
Beberapa orang menduga bahwa hubungan Bulungan dengan Belanda atau kedekatannya dengan Malaysia mungkin menjadi penyebab tragedi ini.
Meskipun Kesultanan Bulungan bergabung dengan Indonesia, wilayah kekuasaannya yang mencakup Sabah, Pulau Sipadan, dan Ligitan, yang kini menjadi bagian dari Malaysia, mungkin berperan.
Setelah peristiwa tersebut, banyak anggota keluarga Kesultanan Bulungan melarikan diri ke Malaysia, termasuk pewaris tahta Datu Maulana Muhammad Al-Makmun Bin Selamat.
Sultan Bulungan yang bertahta saat itu juga menghilang.
Penyelidikan tentang tragedi ini belum sepenuhnya dilakukan. Meskipun ada desakan untuk mengungkap kebenaran, perhatian terhadap kasus ini masih minim.
Kenangan akan tragedi ini tetap membekas bagi warga Bulungan dan keturunannya, meskipun beberapa dari mereka kini menggantungkan hidup pada negara tetangga.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI