Baca Juga: Makam Nyi Ageng Serang Ada di Mana? Putri dari Pangeran Natapraja dan Panglima Perang Diponegoro
Nyai Ageng Pinatih pun dipilih sebagai Syah Bandar karena sudah memenuhi kriteria di antaranya menguasai berbagai bahasa, paham ilmu perdagangan, serta koneksi atau relasi yang luas.
Ia diangkat sebagai Syah Bandar pada tahun 1458 Masehi oleh Prabu Brawijaya V untuk menggantikan Syah Bandar sebelumnya yang telah wafat.
Pusat Pelabuhan Gresik kemudian berpindah dari Desa Bandaran ke Desa Kelingan atau sekarang dikenal dengan daerah Pakelingan.
Pada masa Nyai Ageng Pinatih menjabat sebagai Syah Bandar, Pelabuhan Gresik mencapai puncak kejayaannya dimana ia membangun sebuah tempat pembuatan kapal dan peti kemasan yang disebut Blondongan.
Selain itu, ia juga membuat tempat perbaikan peti yang dipakai untuk menyimpan barang yang diangkut ke dalam kapal serta menyediakan kuda sebagai transportasi guna mengangkut barang dari pedalaman menuju pelabuhan atau sebaliknya.
Baca Juga: Kisah Nyi Mas Gandasari, Seorang Panglima Perang Wanita Kesultanan Cirebon dan Penyiar Islam
Nyai Ageng Pinatih diketahui sudah tidak menjabat lagi sebagai Syah Bandar pada tahun 1477 Masehi karena sakit dan ia kemudian wafat.
Masyarakat percaya bahwa letak makamnya berada di sekitar 300 meter sebelah alun-alun utara Kota Gresik dan belum diketahui siapa pengganti Nyai Ageng sebagai Syah Bandar di masa itu.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!