jelajah

Ternyata Inilah Filosofi dari Kujang, Senjata Pusaka Warisan Kerajaan Pajajaran! Bentuknya Seperti Pulau Jawa

Jumat, 26 Juli 2024 | 16:15 WIB
Kujang, Pusaka Kerajaan Pajajaran yang menjadi simbolis Kerajaan Sunda. (X/ @yosefikr)

SketsaNusantara.id- Di balik kejayaan Kerajaan Pajajaran, ada sebuah pusaka yang sangat istimewa, Kujang milik Prabu Siliwangi.

Senjata ini tidak hanya simbol kekuatan, tetapi juga dikenal karena kemampuannya yang luar biasa untuk menembus dan merusak alam gaib.

Dengan bentuknya yang unik, Kujang menjadi ikon penting dan pusaka bagi masyarakat Pasundan.

Baca Juga: Janggan, Kebaya Gadis Kretek yang Dipakai Dian Sastrowardoyo, Dulu Pakaian Bangsawan hingga Keluarga Kerajaan

Awalnya, Kujang adalah alat pertanian biasa yang digunakan oleh para petani Sunda.

Seperti dikutip SketsaNusantara.id dari laman warisanbudaya.kemdikbud.go.id, beberapa peneliti mengatakan bahwa istilah Kujang berasal dari kata "kudihyang," yang terdiri dari "kudi" dan "hyang."

"Kudi" dalam bahasa Sunda Kuno berarti senjata dengan kekuatan gaib, yang digunakan sebagai jimat untuk mengusir musuh, melindungi rumah dari bahaya, atau menghindari penyakit.

Senjata ini sering disimpan di tempat khusus atau di atas tempat tidur untuk perlindungan.

Baca Juga: Hari Kebaya Nasional: Asal-Usul, Sejarah hingga Beragam Model Kebaya, Pakaian Wanita Sejak Kerajaan Majapahit?

Sedangkan "hyang" dianggap lebih tinggi dari dewa dalam mitologi Sunda, seperti yang tertulis dalam ajaran "Dasa Prebakti" yang menyebut "Dewa bakti di Hyang."

Kujang memiliki beberapa fitur khusus: papatuk/congo (ujung yang menyerupai panah), eluk/silih (lekukan di punggung), tadah (lengkungan di perut), dan mata (lubang kecil yang ditutup logam emas atau perak).

Bentuknya unik, tipis, kering, berpori, dan mengandung unsur logam alami.

Namun, perubahan besar terjadi pada masa Prabu Kuda Lalean, kakek buyut Prabu Siliwangi.

Prabu Kuda Lalean, seorang petapa dan resi yang sangat dihormati, mendapat petunjuk khusus tentang Kujang saat ia menjalani tapa brata di kaki Gunung Ciremai, di Curug Sawer, Majalengka.

Halaman:

Tags

Terkini