Ketika pertermpuran terjadi, gadis berdarah Maluku ini tidak mudah menyerah. Bahkan ia hanya bermodalkan senjata bambu runcing.
Jika amunisi telah habis, ia pun menggunakan batu untuk menyerang para penjajah Belanda yang ada di Maluku.
Tidak hanya itu, Martha Christina Tiahahu juga sempat menjadi pemimpin pada saat pertempuran di Saparua.
Ia menjadi pemimpin bagi kelompok perempuan yang turut serta dalam pertempuran melawan Belanda.
3. Penangkapan
Setelah mengalami berbagai momen pertempuran, adapun salah satu penduduk setempat yang membocorkan lokasi pertahanan tersebut.
Belanda menyerang mereka, sampai akhirnya kolonial ini menang. Dalam hal ini, Paulus Tiahahu dihukum mati oleh Belanda.
Begitu juga dengan Martha Christina Tiahahu yang ditangkap oleh pasukan Belanda. Ia pun berjuang dalam penangkapan sampai akan dibawa ke Pulau Jawa untuk dijadikan pekerja paksa.
Namun anak dari Paulus Tiahahu ini wafat pada perjalanan menuju Pulau Jawa pada 2 Januari 1818 karena kondisi kesehatan yang semakin buruk.***