jelajah

Siapa Kyai Mojo Leluhur Duta Sheila On 7? Inilah Kisah Ulama Besar yang Berjasa dalam Ilmu Keagamaan dan Semangat Juang Melawan Penjajah

Rabu, 24 Juli 2024 | 21:30 WIB
Kisah Kyai Mojo Leluhur Duta Sheila On 7. (Facebook.com/@Salim A.Fillah.)

SketsaNusantara.id- Kyai Muslim Halifah atau kerap disapa Kyai Mojo adalah salah satu pejuang yang menentang kekuasaan Belanda.

Kyai Mojo merupakan penasehat spiritual bagi Pangeran Diponegoro dan ikut andil dalam Perang Jawa atau disebut juga Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825 sampai 1830.

Kyai Mojo lahir dengan nama Bagus Khalifah di Desa Mojo, Pajang atau dekat dengan Delanggu, Suarakarta pada tahun 1782.

Baca Juga: Legenda Tombak Kyai Pleret, Raja Mataram Islam Pertama: Pusaka Keraton Yogyakarta, Begini Kondisinya Sekarang!

Ayahnya bernama Iman Abdul Ngarif merupakan seorang ulama yang sangat tersohor dimana ia mendapatkan tanah perdikan di Desa Baderan, Mojo, Pajang.

Sementara Ibunya adalah Raden Mursilah, adik perempuan dari Sultan Hamengkubuwono III dan masih saudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Setelah itu, Kyai Mojo sebagai putra laki-laki mewarisi tanah perdikan dari Sang Ayah termasuk pesantrennya dan namanya dikenal sama dengan nama desa itu.

Kyai Mojo tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kental akan ilmu keagamaan Islam yang begitu disegani oleh Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Baca Juga: Keris Kyai Nogo Siluman Pangeran Diponegoro Kembali ke Indonesia: Sejarah yang Pulang ke Rumah

Banyak putra-putri keraton yang belajar dan mengaji di pesantren tempat Kyai Mojo tinggal serta Istrinya juga dari kalangan bangsawan yang bernama Raden Ayu Mangkubumi.

Dilansir SketsaNusantara.id dari website kebudayaan.kemdikbud.go.id, Kyai Mojo dikenal sebagai ulama yang mempunyai relasi sangat tinggi dan dibuktikan akan hubungannya dengan pusat keagamaan dan politik di Jawa hingga Bali.

Bahkan, ia pernah menjadi perantara dalam hubungan Keraton Surakarta dengan Kerajaan Buleleng di Bali meskipun keduanya berbeda kepercayaan.

Hal tersebut terjadi karena sudah ada ikatan politik dan budaya antara dua kerajaan besar itu yang sudah terjalin sejak abad ke-18.

Bali menjadi tempat untuk berlindung bagi para santri-santri yang datang dari Jawa agar bisa menghindari penangkapan dari kompeni Belanda.

Halaman:

Tags

Terkini