Letkol M Sroedji dan dr. Soebandi yang sedang istirahat pun bergegas menyelamatkan warga sipil sebelum bergabung bersama pasukannya.
Di tengah pertempuran, sebutir peluru mengenai pundak Letkol M Sroedji yang langsung membuatnya terjatuh.
Letkol dr. Soebandi yang juga merupakan sahabatnya itu pun bergegas menolong dan memapah Letkol Sroedji ke tempat aman.
Sayangnya, tentara Belanda dengan jumlah yang lebih banyak membuat posisi mereka tersudut.
Saat itulah sebutir peluru tiba-tiba menghantam tubuh dr. Soebandi dan membuatnya gugur seketika.
Melihat sahabatnya terkapar tak berdaya, Letkol Sroedji seolah-olah mendapatkan kekuatan entah dari mana hingga akhirnya ia bangkit dan kembali menggenggam pistolnya.
Bak banteng ketaton, ia mengamuk, berterika sambil menembakkan peluru ke arah pasukan Belanda.
Bahkan saat pelurunya habis, Letkol Sroedji masih melakukan perlawanan dengan tinjunya seperti dikutip SketsaNusantara.id dari buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 10: Perang Gerilya Semesa II, karya A.H Nasution, yang diterbitkan Angkasa Bandung (1979)
Pihak Belanda yang memang sudah mengincar Letkol Sroedji sejak lama bergegas melumpuhkan pria kelahiran Bangkalan tersebut.
Jasad Letkol dr. Soebandi kemudian dikuburkan di wilayah tersebut oleh masyarakat setempat.
Sementara jasad Letkol M Sroedji dibawa ke alun-alun oleh pihak Belanda.
Kisah persahabatan keduanya ini pun diabadikan dalam sebuah patung yang kini berdiri tegak di jalan arteri Kabupaten Jember.***