Selama menjadi mantri Malaria, Sroedji berhasil mengatasi wabah malaria yang saat itu melanda Jember.
Baca Juga: Di Mana Lokasi Makam Mbah Shiddiq? Salah Satu Objek Wisata Religi Jember yang Dipadati Peziarah
Selama tinggal di Jember, Sroedji juga aktif dalam organisasi kepemudaan Muhammadiyah seperti Indonesia Moeda.
Sebelum terjun ke militer, ia juga aktif menjadi pengurus inti Muhammadiyah cabang Jember.
Karir militernya dimulai saat ia dikirim oleh Muhammadiyah Jember untuk mengikuti pendidikan PETA saat kependudukan Jepang.
Baca Juga: Karomah Mbah Shiddiq Jember, Benarkah Punya Keistimewaan Serupa dengan Nabi Ibrahim?
Kecakapannya membuat karir militer Sroedji melesat cungkup singkat.
4 Tahun setelah mengikuti pendidikan militer, Sroedji dipercaya menjadi Komandan Resimen Tempursari.
Ia bahkan menjadi musuh nomor 1 militer Belanda di wilayah Jember dan sekitarnya.
Baca Juga: Siapa Mbah Shiddiq Jember? Ulama Penyebar Agama Islam se Antero Jember, Punya Nama Asli...
Pada tahun 1948, Letkol Sroedji pernah memimpin 5 ribu orang yang tergabung dalam rombongan Brigade III Damarwulan yang bergerak dari Blitar menuju Jember.
Sayangnya, Letkol Sroedji tewas saat dikepung Belanda di Karang Kedaung.
Peristiwa pertempuran yang terjadi pada 8 Februari 1949 ini menewaskan Letkol Sroedji dan sahabatnya, Letkol dr. Soebandi.
Belanda yang begitu membenci Letkol Sroedji bahkan membawa jasadnya ke alun-alun Jember dan dipertontonkan ke publik.