Menginjak remaja, KH Hasyim Asy'ari melanjutkan pendidikannya ke berbagai pesantren ternama di Jawa pada usia 15 tahun. Tak sampai di situ, beliau juga menuntut ilmu sampai ke tanah suci Mekah setelah menikah pada tahun 1892.
Pada tahun 1899, Hasyim Asy'ari kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya dari tanah suci dan mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang.
Pesantren Tebuireng ini dengan cepat menjadi salah satu pusat pendidikan Islam yang berpengaruh di Indonesia.
Selain mengajarkan ilmu agama, Hasyim Asy'ari juga mengajarkan pentingnya persatuan dan kesatuan umat serta penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
K.H. Hasyim Asy'ari diberi gelar Hadratussyaikh karena telah hafal 6 dari kitab hadits, serta memiliki gelar Syaikhu al-Masyayikh yang berarti Mahaguru alias gurunya para guru.
Pada tanggal 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy'ari bersama beberapa ulama terkemuka lainnya mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah Ahlussunnah wal Jama'ah.
Organisasi ini dibentuk sebagai respons terhadap perkembangan modernisasi dan kolonialisme yang terjadi pada awal abad ke-19.
Tujuan utama didirikannya NU yakni mempertahankan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dan menjaga keutuhan serta kemandirian umat Islam di Indonesia.
Hasyim Asy'ari memegang peran penting dalam pendirian organisasi ini sekaligus sebagai Rais Akbar atau pemimpin tertinggi pertama. Berdirinya NU juga tak lepas dari restu Syekh Kholil yang merupakan mahaguru ternama dari Bangkalan, Madura.
Tak hanya menyebarkan agama islam, KH Hasyim Asy'ari juga berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Melalui organisasi NU yang didirikannya, KH Hasyim Asy'ari mendorong umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman Belanda dengan mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1945.