Islam masuk ke pelosok-pelosok Bali dengan menggunakan politik pendekatan raja-raja, berbeda dengan metode yang digunakan pada pulau lainnya di Nusantara.
Ada beberapa peninggalan Islam di Karangasem Bali yang dipercaya merupakan makam keramat kembar dari ulama Muslim.
Terdapat satu kisah tentang ulama penyebar Islam di Bali yang diyakini masyarakat sebagai bagian dari 'Wali Pitu'.
Hal itu ditunjukkan di Kabupaten Karangasem, terdapat dua makam yang dikeramatkan oleh muslim dari berbagai daerah dan juga oleh warga Hindu Bali.
Makam itu disebut sebagai makam kembar keramat yang diyakini keduanya merupakan makam Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi dan Habib Ali bin Zaenal Abidin al-Idrus.
Dua makam ini dipercaya sebagai makam dua ulama penyebar agama Islam di Bali khususnya di wilayah Karangasem.
Salah satu makam ini dipercaya masyarakat sebagai makam kuno yang diperkirakan sudah berusia 350-400 tahun. Salah satunya dipercaya sebagai makam Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi yang merupakan salah satu dari Wali Pitu penyebar Islam di Pulau Dewata.
Jejak sejarah Syekh Maulana Yusuf memang sangat minim bahkan tak ada bukti sejarah yang tertulis, namun berbeda dengan juru kunci makam pertamanya yakni Habib Ali Zainal Abidin yang dikenal sebagai ulama besar yang menurut sejarah bermukim di Karangasem Bali.
Ia kemudian mengajar banyak murid dari Bali hingga Lombok dan mengabdikan dirinya sebagai juru kunci makam kuno Syeikh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi hingga wafat pada usia 109 tahun pada 19 Juni 1982.
Setelah wafat ia kemudian dimakamkan di samping makam kuno Syeikh Maulana Yusuf al-Baghdi al-Maghribi.
Sejak saat itulah, dua makam yang bersebelahan ini disebut sebagai 'makam keramat kembar' dan makam 'wali kembar' atau dua wali yang diakui sebagai bagian dari Wali Pitu.
Makam keramat kembar ini terletak di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali, yang tak hanya diziarahi oleh kaum muslim dari pelosok Nusantara namun juga dari orang-orang Hindu Bali sendiri.***