Hal itulah yang membuat makanan tersebut mempunyai makna filosofi yang tersembunyi di baliknya.
Baca Juga: 107 Guru Honorer Diberhentikan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta Berikan Solusi Agar Tetap Bekerja
Filosofi pada makanan ini terlihat dari adonan yang terdiri dari daging cincang dan bumbu, dimana melambangkan masyarakat Bali yang berasal dari berbagai unsur dan golongan.
Sementara itu, tusuk pada sate lilit adalah sebagai bentuk lambang untuk pemersatunya.
Lambang tersebut menggambarkan masyarakat Bali yang selalu bersatu dan tidak akan berpisah meskipun dari berbagai unsur dan golongan.
Pada masa lalu, sate lilit hanya disajikan untik upacara keagamaan sebagai hidangan wajib ketika upacara persembahan dan penghormatan kepada para dewa.
Selain itu, kuliner ini ternyata melambangkan kejantanan pria karena kebanyakan kaum pria yang membuat makanan ini.
Hal tersebut karena sate lilit harus dibuat dan disajikan dalam jumlah banyak dalam setiap acara yang menyebabkan hanya tenaga pria yang bisa melakukannya.
Masyarakat Bali pada tradisinya juga selalu menganggap kaum pria sebagai juru masak pada setiap kegiatan adat yang dilakukan di Bali.***