Hal itulah yang membuat makanan tersebut mempunyai makna filosofi yang tersembunyi di baliknya.
Baca Juga: 107 Guru Honorer Diberhentikan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta Berikan Solusi Agar Tetap Bekerja
Filosofi pada makanan ini terlihat dari adonan yang terdiri dari daging cincang dan bumbu, dimana melambangkan masyarakat Bali yang berasal dari berbagai unsur dan golongan.
Sementara itu, tusuk pada sate lilit adalah sebagai bentuk lambang untuk pemersatunya.
Lambang tersebut menggambarkan masyarakat Bali yang selalu bersatu dan tidak akan berpisah meskipun dari berbagai unsur dan golongan.
Pada masa lalu, sate lilit hanya disajikan untik upacara keagamaan sebagai hidangan wajib ketika upacara persembahan dan penghormatan kepada para dewa.
Selain itu, kuliner ini ternyata melambangkan kejantanan pria karena kebanyakan kaum pria yang membuat makanan ini.
Hal tersebut karena sate lilit harus dibuat dan disajikan dalam jumlah banyak dalam setiap acara yang menyebabkan hanya tenaga pria yang bisa melakukannya.
Masyarakat Bali pada tradisinya juga selalu menganggap kaum pria sebagai juru masak pada setiap kegiatan adat yang dilakukan di Bali.***
Artikel Terkait
Kisah Kerajaan Gelgel, Pilar Nusantara Bukti Kejayaan Bali di Masa Lampau yang Runtuh Karena Pemberontakan
Inilah Penampakan Keris Bali Milik Prabowo Subianto dari Abad 16, Dipamerkan pada Peringatan Grebeg Suro di Ponorogo
Restoran Estetik Tepi Pantai, Rasakan Sensasi Bali di Yogyakarta dengan View Laut Langsung
Cari Pantai Biru yang Menyatu Sama Langit? Kunjungi Pantai Gunung Payung Bali, Punya 2 Akses Masuk
3 Perempuan Penguasa Nusantara yang Jarang Orang Tahu, Salah Satunya Membawa Majapahit Menaklukan Sumatera dan Bali Lewat Sumpah Palapa