Sabtu, 20 Juni 2026

Mengenal Sate Lilit Sebagai Sajian Khas Pulau Dewata dan Filosofinya yang Tersembunyi, Dulunya Pakai Daging Babi?

Photo Author
Sinta Dewi Utami, Sketsa Nusantara
- Kamis, 18 Juli 2024 | 09:00 WIB
Sate Lilit khas Bali.  (Instagram.com/@kazbarlow.)
Sate Lilit khas Bali. (Instagram.com/@kazbarlow.)

Hal itulah yang membuat makanan tersebut mempunyai makna filosofi yang tersembunyi di baliknya.

Baca Juga: 107 Guru Honorer Diberhentikan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta Berikan Solusi Agar Tetap Bekerja

Filosofi pada makanan ini terlihat dari adonan yang terdiri dari daging cincang dan bumbu, dimana melambangkan masyarakat Bali yang berasal dari berbagai unsur dan golongan.

Sementara itu, tusuk pada sate lilit adalah sebagai bentuk lambang untuk pemersatunya.

Lambang tersebut menggambarkan masyarakat Bali yang selalu bersatu dan tidak akan berpisah meskipun dari berbagai unsur dan golongan.

Baca Juga: Ada Makam Tua di Gresik Terukir Nama Seorang Muslimah di Batu Nisan, Jejak Masuknya Islam ke Pulau Jawa Sebelum Wali Songo?

Pada masa lalu, sate lilit hanya disajikan untik upacara keagamaan sebagai hidangan wajib ketika upacara persembahan dan penghormatan kepada para dewa.

Selain itu, kuliner ini ternyata melambangkan kejantanan pria karena kebanyakan kaum pria yang membuat makanan ini.

Hal tersebut karena sate lilit harus dibuat dan disajikan dalam jumlah banyak dalam setiap acara yang menyebabkan hanya tenaga pria yang bisa melakukannya.

Masyarakat Bali pada tradisinya juga selalu menganggap kaum pria sebagai juru masak pada setiap kegiatan adat yang dilakukan di Bali.***

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X