Menurut Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. selaku Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PCNU Kabupaten Blitar yang masih keturunan dari Sunan Bayat, menyatakan bahwa gelar Sunan Pandanaran dipakai tiga orang yang berbeda dan memiliki ikatan kekeluargaan yang erat.
Penemu dan pemegang kekuasaan pemerintahan atau bupati pertama di Kota Semarang adalah Sunan Pandanaran I yang memiliki nama asli Joko Supeno.
Dalam babad Kesultanan Demak Bintoro Pajang dan Mataram, dituliskan bahwa Sunan Pandanaran I atau Joko Supeno merupakan putra dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.
Baca Juga: Uniknya Pasanggrahan Situs Warungboto Sebagai Destinasi Pemandian Sultan, Bisa Buat Prewedding?
Sunan Pandanaran I atau Ki Ageng Pandanaran dan hingga kini disebut sebagai pendiri Kota Semarang yang haulnya selalu diperingati oleh masyarakat hingga para pejabat setempat.
Sepeninggal Ki Ageng Pandanaran, pemerintahan Kota Semarang diberikan kepada Sunan Pandanaran II atau yang dikenal sebagai Sunan Bayat.
Sunan Pandanaran II atau Sunan Bayat merupakan putra menantu dari Ki Ageng Pandanaran, putra dari Sayyid Maulana Hamzah.
Bupati Semarang yang kedua ini merupakan keturunan Sunan Ampel Surabaya dan memiliki nama asli Sayyid Hasan Nawawi.
Sunan Pandanaran II atau yang biasa disebut Raden Kaji ini kemudian hijrah dan menjadi murid Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama islam di wilayah Tembayat atau Bayat, Klaten, dan sekitarnya sehingga diberi gelar Sunan Bayat.
Setelah ditinggal Sunan Bayat, jabatan Bupati Kota Semarang dipegang oleh Sunan Pandanaran III yang dikenal dengan Pangeran Mangkubumi.
Pangeran Mangkubumi alias Sunan Pandanaran III merupakan adik ipar dari Sunan Pandanaran II atau Sunan Tembayat.
Selama pemerintahan Sunan Bayat hingga Raden Mangkubumi ini, Kota Semarang memiliki perkembangan pesat.