Seperti Punden Keraton Srigati yang kerap didatangi dengan maksud mencari berkah dan keselamatan.
Pada hari-hari tertentu di Bulan Suro, Pesanggrahan Srigati banyak dikunjungi peziarah untuk melakukan ritual.
Selain itu ditemukan pula petilasan Brawijaya V. Petilasan ini pertama kali ditemukan oleh Kepala Desa Babadan, Somo Darmojo, pada 1963.
Petilasan Brawijaya V ini berupa punden yang konon terus bertambah tinggi dan berhenti pada waktu-waktu tertentu.
3. Punya Tradisi dan Ritual yang Dilaksanakan Setahun Sekali
Alas Ketonggo sangat kental dengan mitos serta legenda yang tersimpan di hutan ini. Begitu juga dengan adan dan tradisinya.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman ngawi.ngawikab.go.id salah satu ritual yang terkenal adalah ritual adat Ganti Lengse. Ritual ini biasanya dilakukan setiap tahun sekali, saat bulan Suro.
Sebuah ritual penggantian kain mori penutup pada Palenggahan Agung Srugati, petilasan Raja Brawijaya V.
Konon dulu saat bertapa di petilasan Srigati, Raja Brawijaya V berganti busana kerajaan berwarna kuning, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Gunung Lawu hingga kemudian moksa.
4. Keanekaragaman Hayati
Meski diselimuti mitos dan legenda, namun Alas Ketonggo juga selayaknya hutan yang menyimpan keanekaragaman hayati. Beragam flora dan fauna langka hidup di Alas Ketonggo.
5. Menjadi Wisata
Seperti disebutkan sebelumnya, Alas Ketonggo menjadi salah satu wisata menarik di Ngawi.