Pangeran Hadiwijaya pun memutuskan untuk melakukan peningkatan daerah dan menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten pada 2 Mei tahun 1574 Masehi.
Tetapi, lambat laun Pemerintahan Semarang yang dibawah kuasa Sunan Bayat atau Pangeran Pandanaran ini berubah menjadi sangat buruk.
Baca Juga: Ini Dia Deretan 7 Kota Paling Sepi yang Ada di Indonesia, Jadi Serasa Tenang Kalau Datang ke Sini!
Pangeran Pandanaran tidak menjalankan tugas kenegaraannya dengan baik serta lalai untuk mengerjakan tugas wajib sebagai umat Islam serta tidak merawat pondok pesantren dan tempat ibadah dengan baik.
Sultan Demak Bintoro yang mendengar hal itu akhirnya mengutus Sunan Kalijaga untuk menyadarkanya.
Sunan Kalijaga pun setuju dan pergi mendatangi Pangeran Pandanaran dan terus berusaha menasehatinya agar tidak sombong dan jangan memuja hartanya dengan berlebihan.
Setelah berbagai cara sudah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, akhirnya Pemimpin Semarang itu menyadari kesalahannya dan memilih meninggalkan tahtanya serta digantikan oleh sang adik.
Setelah itu Pangeran Pandanaran ini mengikuti saran dari Sunan Kalijaga untuk pergi bersama Istrinya dengan tidak membawa harta apapun menuju Gunung Jabalkat.
Sejak saat itu, ia bertekad untuk memperdalam ilmu Agama dengan menjadi murid Sunan Kalijaga.
Setelah ia mampu menyerap semua pengetahuan yang diajarkan, Pangeran Pandanaran pun ikut serta menyebarkan dakwah Islam di daerah Jabalkat dan mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.
Selain berdakwah, dirinya juga mengajarkan cara bercocok tanam dan bergaul dengan baik antara sesama manusia.
Ajaran dari Sunan Bayat yang paling terkenal "Patembayatan" yang artinya kerukunan atau gotong royong.
Baca Juga: Mitos Puncak Gunung Lawu, Konon Jadi Tempat Pengasingan Prabu Majapahit Brawijaya V